Tuesday, June 30, 2009

Transformers Di Dadaku


Ini adalah acara nonton di ulang tahun yang tertunda sampai seminggu. Aku, bday girl lain Ab dan tamu yang diundang, Cchyn berniat nonton Transformers. Tapi penuhnya gila banget! Kita sempet kayak orang stress yang kegirangan setiap liat sesuatu yang berhubungan dengan Transformers. Entah itu poster filmnya, mainan yang dijual salah satu fast food bahakan tulisannya yang ada dimana-mana.
Pada akhirnya kita milih nonton film Garuda Di Dadaku.
Scene yang aku suka adalah saat Bayu nemuin tempat buat berlatih bola yang tak lain adalah kuburan! Disitu Zahra muncul dengan sangat mengejutkan, pake payung dan ekspresinya datar. Aku belum pernah nonton film Indonesia yang menurutku cukup sempurna ini. Mendidik dan diselipin beberapa candaan yang berkualitas. Aku belum nemuin cacatnya. Good movie!
Sempet narsis juga nih,

Monday, June 29, 2009

Prepare To Join

Ada dua lomba cerpen yang mau aku ikutin. Satu dari sebuah tabloid dan yang satu lagi dari pemerintah yang mengurusi bahasa dan sastra. Untuk lomba yang kedua aku mau ngirim cerpen Buku Dalam Mimpi.

Nb: I watched Sky High and found Kristen Stewart’s boyfriend in teen age.

Sunday, June 28, 2009

Who’s Can Believe It?

The King Of Pop, Michael Jackson, was pass away.

Aku sempet denger sekilas di radio, tapi aku kira main-main soalnya gak ditanggapi serius sama penyiarnya. Tapi keesokan harinya semua koran dan televisi menayangkan klonologi kematiannya.

Lalu sorenya aku denger program Tribute To MJ dan lagu-lagu dari album Thiller banyak diputar. My favorite are The Girl Is Mine new version and also Black Or White.

Aku gak terlalu ngikutin perkembangan dia waktu masih hidup, tapi begitu denger beberapa lagunya diputar lagi, aku familiar dengan lagu itu. Uugh, apalagi soal Moonwalknya dia itu.

Salah dua dari stasiun TV menampilkan Adam Jackson yang bisa meniru moonwalknya MJ dan ow, thats amazing!


Saturday, June 27, 2009

Long Day And Posting

Aku kayak orang bego banget waktu masuk parkiran Paris Van Java. Aku emang baru pertama kali kesini, sendirian lagi! Tapi semuanya aku lakuin buat nonton Queen Bee bareng RAN.

Rada bingung pas mau ke Blitzmegaplexnya. Aku sampai turun ke UG. Disana kayak ruang bawah tanah aja dan gak begitu rame. Apa sih asyiknya jalan-jalan kesini? Tempat makan yang unik dan enak emang banyak. Mungkin kalo aku datengnya rame-rame kerasa kali ya.

Lalu aku naik ke atas lagi, ngikutin pasangan dan oh ini bioskopnya! Ngapain aku puter-puter UG?

Sampe ke atas aku bingung. Trus aku turun lagi. Aku berniat ngantri beli tiket untuk nanyain event yang mau mulai jam satu. Ternyata aku disuruh naik lagi dan tanya ke informasi. Ok, aku udah nyampe informasi dan mbaknya nunjukin bagian luar yang udah didekor. Tapi untuk registrasi tiket dan invitation, aku harus nunggu 15 menit lagi.

Uuh! Aku turun lagi ke UG. Maunya sih baca majalah di Garmedia. Tapi ketutup rapi semua. Puter-puter gak jelas gara-gara gak tau tempat novel fiksinya, aku kembalilah ke atas. Disana udah pada ngantri buat registrasi dan aku segera gabung ke barisan.

Rata-rata yang dateng itu anak SMP dan dapet invitation gratis karena salah satu sponsornya dateng kesekolah. Dan ternyata untuk ikutan acara ini bisa daftar hari ini juga, gak kayak aku yang udah telepon dari dua minggu yang lalu. Tau gini aku ajak temen.

Setelah ngantri aku dapat goody bag, es krim dan foto bareng RAN versi iklan es krim. Enaknya kita dapet snack tapi lagi-lagi ngantri dan tempat duduknya terbatas. Aku hampir ngehapus cap tanda buat dapet snack pas ke rest room! Abis itu kita ngumpul lagi, duduk lesehan buat nunggu RAN. Sebenernya aku udah liat Asta pas mau ke rest room. Dan dia itu tinggi gede gitu, uuugh!

And RAN finnaly coming!

And show began!

Mereka nyanyiin delapan lagu, ada Tunjukan Cintamu, Warna Warni Dunia, Nothing Last Forever, Ratu Lebah, Pandangan Pertama, Selamat Pagi, Kembali dan Hanya Untukmu. They act so attractive! Beda sama kalo lipsync di TV. Intronya bervariasi jadi kita gak tau lagu apa ini. Rayi sama Ninonya juga pake pendahuluan sebelum lanjut ke lagu lain. Cuma Asta aja yang diem dan kayaknya jadi additional player. Ngiri banget deh waktu ada seorang cewek yang diajak nyanyi bareng lagu Pandangan Pertama.

Sayangnya ini harus berakhir, tapi kita bakal nonton Queen Bee bareng RAN juga. Aku malu-maluin lagi disini. Aku malah dudukin kursi orang gara-gara gak tau kalo barisan kursinya sampe P. Ternyata P itu ada diatas dan aku bisa liat RAN yang duduk paling atas.

Buatku Queen Bee lumayan juga. Aku suka baju-baju yang dipake Queen (Tika Putri), Fla (Anizabella) dan Okta (Marsha). Juga sikap calon presiden Rahmat Siregar yang bener-bener niat jadi persiden karena rakyat. Apalagi kalo A-14 (Oka Antara) lagi ngomong dan sikapnya sama Queen. Tapi yang aku paling suka banget itu adegan pas A-14 dan Braga (Reza) rebutan pistol yang dalam syuting itu pistol beneran. Lagu yang mengiringinnya itu tegang banget!

Tapi masih ada kekurangan lah. Aku bingung tentang tempat bencana yang tim kampaye kunjungi. Katanya longsor tapi lebih menyakinkan untuk banjir. Trus kasus Braga yang manfaatin Queen gak ada kelanjutannya. Dan yang paling bikin penasaran nama asli agen A-14 itu gak disebutin!!!

Beberapa menit sebelum ending film, RAN dengan pengawalan pergi keluar auditorium. Semuanya ternyata tau kalo RAN ada jadwal manggung lagi di prom nite salah satu SMA negeri. Semuanya kecewa deh.

Pulangnya, setelah ngambil foto yang gak banget itu,aku hampir putus aja nunggu angkot yang muncul. Apalagi macetnya itu loh. Tapi koq jam tujuh aku belum ditelepon juga ya? Aku sempat pikir ini berarti orang rumah ngasih kepercayaan buat aku yang udah 18 tahun. Eh, ternyata my mom kira aku lagi tidur di kamar. Aku akhirnya diomelin juga. Ditengah perjalanan aku ketemu T’milz loh!!

Nb: malemnya aku sempet liat film Harry Potter yang ke empat. Aku terpesona gitu sama munculnya Cedric. Tapi waktu adegan dansa, dia jadi mirip Edward Cullen.

Friday, June 26, 2009

Premiere Today



Guntur suka sekali main bulutangkis. Dia punya bakat besar yang diturunkan oleh ayahnya. Walaupun sebenarnya ayah Guntur itu hanya seorang komentator bukan seorang pemain. Guntur dan ayahnya, yang bekerja sebagai pengumpul bulu angsa untuk shuttlecock ini, mempunyai idola yang sama yaitu Liem Swie King yang berjaya ditahun 70an hingga 80an.

Guntur ingin sekali sukses seperti King karena termotivasi dengan cerita sang ayah tentang King. Guntur didukung oleh temannya Raden tak pernah menyerah untuk mencapai cita-citanya. Raden juga setia membantu Guntur untuk mendapatkan beasiswa bulutangkis.

Nb: RAN today!

Thursday, June 25, 2009

Premiere Today


Posisi Megatron yang sudah mati di film pertama digantikan oleh Starscream. Mereka kembali ke bumi bersama pasukannya untuk mencari Sam Witwicky yang tahu info tentang transformers di bumi.

Para autorobot juga akhirnya tahu kalau Megatron yang sudah ditenggelamkan, dicoba untuk dibangkitkan lagi. Ternyata Megatron dicuri oleh Scorponok dari Badan Militer AS. Mereka mencoba membangkitkannya dengan energi sendiri.

Transformers juga mengambil tempat shooting di Mesir. Wah, saingan sama megafilm Ketika Cinta Bertasbih dong!

Wednesday, June 24, 2009

Ready To Join

Aku beli sebuah tabloid TV remaja hari ini. Aku sebenernya gak terlalu tertarik untuk baca tabloid yang bentuk dan ukurannya cukup menyulitkan, tapi aku coba karena tabloid itu ngadain lomba cerpen.

Tapi aku gak yakin cerpen aku bisa masuk. Soalnya tipe cerpen di tabloid itu beda dengan cara aku nulis cerita. Cerpen-cerpen yang aku bikin akhir-akhir ini kadang Cuma monolog dan kesannya sendu. Ini gara-gara ketagihan bikin prolog mulu. Sedangkan cerpen disana lebay banget cara nyeritainnya dan pasti tentang cinta yang berujung dua orang yang akhirnya jadi pasangan. Terlalu klise dan jadul menurut aku. Tapi cukup menghibur untuk sekedar selingan.

Lalu aku mutusin buat ngikutin alur yang ada. Aku bakal bikin cerpen yang ceria dan banyak candaannya. Dulu aku pernah bikin dan my brother cukup suka, padahal dia gak pernah tahu aku suka nulis. Sayang aku ngetiknya di laptop my dad yang lama. Gak tahu kemana dan gak sempet ke print juga. Aku curiga gak ada yang bisa buka juga. Aku pasang password soalnya.

Setelah dipikir-pikir aku ada cerpen yang tema ceritanya cukup unik buatku. Cuma aku sudah tulis dengan cara monolog gitu. Gak ada dialog atau apapun itu. Cuma pikiran sang tokoh utama. Kayaknya harus di rewrite nih.

Tuesday, June 23, 2009

Coming For Nothing

Rencananya sih mau cap 3 jari tapi malah jadi nonton Boys Before Flowers. Aku pake seragam lagi. Padahalkan aku udah alumni! Dan ternyata cap 3 jarinya gak sekarang. Huaaa..!

Ok, ternyata episode serial Korea ini panjang banget dan gak jauh beda dengan Meteor Garden tapi i think this one better.. Aku nonton episode belasan sedangkan pengetahuan aku baru episode empat. Tak nyambung lah aku. Berkali-kali aku bertanya tentang keadaan para tokoh yang jauh beda.


Saat setengah hari terlewati, tak disangka temen aku itu ngajak nonton Twilight. Oh, gosh! Biasanya mereka gak jauh dari Korea, Taiwan, Jepang dan negara Asia lainnya. Belum lagi boysband and girlsband yang menari seenergik lagunya. Dan kini mereka nonton Twilight yang katanya belum mereka tonton. Ok, jadi berkhayal lagi punya cowok seperfect Edward.


Aku dulu nonton Twilight sendirian dan ngerasa konflik di film ini gak ketemu-ketemu. Itu buat ku saat itu. Tapi aku ngerasa beda saat nonton rame-rame. Belum lagi betapa mupengnya saat kissing scene! Edward gini, Edward gitu dan semacamnya. Menarik! Apalagi aku udah baca dua dari empat bukunya. Jadi aku bisa ngejelasin apa yang bikin mereka terheran-heran.


Something happen when I go home,

Ada kejadian aneh saat aku pulang dan itu terjadi diangkot. Selalu aja ada yang beda diangkot. Entah itu copet atau orang minta-minta seperti yang aku alamin.

Aku dan seorang temen aku ngobrol dengan semangat tentang mobil salah satu capres. Kemudian seorang ibu-ibu naik dengan kantong keresek yang cukup besar dan terlihat berat. Aku kira ibu itu baru belanja dari toserba Griya karena dia naik di jalan Buah Batu. Tapi keresek itu berwarna hitam dan polos.

Aku dan temanku masih asyik ngobrol. Obrolan itu terhenti ketika ibu-ibu yang duduk disebelah temanku itu meminta uang. Kita langsung terdiam dan ngerasa gak enak. Kita gak ngasih karena uang kita tinggal buat ongkos dan buat aku sulit percaya dengan hal seperti itu. Dia memang Cuma minta seribu, tapi maaf ya aku kurang yakin. Kenapa naik angkot kalo ongkosnya gak bisa bayar?

Ibu itu meminta temanku lagi. Aku jadi serba salah lebih memilih diem dan ngecek hp didalam tasku. Tak disangka tangan ibu-ibu terulur padaku. Mungkin dia kira aku mau ngambil dompet atau apa. Aku bener-bener gak enak hati.

Setiap ada yang naik angkot dan duduk didekat ibu itu, selalu dimintai uang seribu. Orang yang dimintai itu gak ngasih kayak aku. Aku sempat mikir ini adalah acara reality show di TV yang nguji rada tolong menolong kita. Tapi ini didalam angkot gitu. Masa kameranya ikutan ngetem buat ambil gambar si ibu?

Ketika seorang bapak-bapak naik di Pasar Kordon, ibu itu mendapat apa yang dimintanya. Aku sedikit lega bapak itu baik dan bisa ngasih uang seribu ke ibu itu. Jadi istilahnya uang itu emang udah rezeki si ibu walaupun bukan aku yang ngasih. Bapak itu pun turun dan ibu-ibu tak terdengar minta uang lagi.

Ketika ibu itu turun, aku jadi penasaran tentang ongkos yang dia bayar. Tujuannya ini takkan cukup dengan ongkos seribu. Kalo dia emang gak punya uang sedikitpun. Tapi ternyata seorang ibu muda bilang ke supir angkotnya kalo dia yang bakal bayar ongkos ibu-ibu itu. Aku sedikit kaget. Berarti dia masih minta uang ke orang lain dong!

Ibu-ibu dengan kantong keresek hitam itu pergi dengan cepat. Setelah itu ibu-ibu yang lain, yang baru naik dan sudah dari tadi, mulai berkomentar. Seorang ibu dengan anaknya bilang kalo ibu-ibu berkeresek itu udah dikasih uang seribu sama bapak-bapak. Sedangkan ibu yang baru naik bilang kalo dia pernah liat ibu-ibu berkeresek itu sebelumnya. Ibu muda yang ngebayarin ongkos si ibu berkeresek tentu kaget tapi dia tak ambil pusing. Dia ternyata merasa sedikit curiga dengan ibu berkeresek yang berwajah agak seram itu.

Ibu yang baru naik juga bilang kalo ada ibu-ibu lain yang pake trik kayak gini. Tidak hanya berpenampilan lusuh, ada juga yang ngendong bayinya yang berkepala besar, seperti kena kanker gitu. Ibu itu juga cerita kalo setelah turun, mereka biasanya nyebrang dan naik angkot lagi. Lalu mereka turun agak jauh dan nyebrang lagi balik lagi. Muter-muter gitu lah.

Aku bingung. Buat apa coba? Kalo mereka nyari uang, uangnya juga gakkan sebanding dengan ongkos angkotnya atau seperti dibayarin ibu muda tadi, ibu-ibu tadi gakkan dapet apapun kan. Kecuali jalan-jalan pake angkot dengan gratis.

Monday, June 22, 2009

Fix It

Aku udah nyalain TV dari pagi dan baru bisa nonton sekitar jam 2an. Untung aja serial Koreanya sempet dan gak ngecewain. Hari ini aku juga makan coklat hadiah ulang tahun dari Rostia.



Aku rada blank di Grey Guy dan gak pede karena cerita cewek nyamar jadi cowok itu Cuma ada di manga-manga. Kalo di serial contohnya Coffee Prince dan aku gak yakin bisa bikin se real itu.

Tapi aku masih ada keinginan buat nulis ulang plot yang seharusnya bisa lebih panjang. Ceritanya adalah tentang kebuntuan Pia saat belajar gitar. Pia dibantu temannya Lona,yang punya gitar, beli buku panduan yang cukup sulit penjelasannya.

Buku berjudul “ Petunjuk Praktis Teknik Bermain Gitar” itu ternyata tidak sepraktis prakteknya. Tak disangka buku itu terbit tahun 1983.

Jari-jari dikedua tanganku jadi korban. Kak Rio yang menonton dari awal terbahak-bahak.

” Bisanya cuma ketawa aja” gerutuku

” Siapa bilang?” Kak Rio mendekat dan mengalih gitar Lona ” Kakak bisa maen gitar koq”

Setelah itu Kak Rio dengan senang hati mengajarkan maen gitar sama adiknya itu. Terlalu lembek menurutku. Harus ada konfliknya. Dan ini yang akan aku rubah.

Buku berjudul “ Petunjuk Praktis Teknik Bermain Gitar” itu ternyata tidak sepraktis prakteknya. Tak disangka buku itu terbit tahun 1983.

Jari-jari dikedua tanganku jadi korban. Kak Rio yang menonton dari awal terbahak-bahak.

” Bisanya cuma ketawa aja” gerutuku

Sambil tetap tertawa, Kak Rio meninggalkan aku dan Lona.

” Sudahlah” Lona menenangkanku ” Itu gak ngaruh juga sama permainan gitar kamu”

” Apa?” aku yang benar-benar kesal dan cape tak sadar jadi naik darah.” Bilang aja kamu gak yakin aku bisa jadi cowok”

” Aku gak bermaksud kayak gitu” bantah Lona pelan

” Alah! Aku susah payah belajar maen gitar sampe beli buku susah itu gara-gara kamu tau! Dan lihat, rambut aku cepak gini karena siapa? Kamukan yang ngajak ke salon itu”

” Koq jadi nyalahin aku?”

” Dan kamu gak perlu susah-susah pake minjemin aku gitar segala!”

BRAK!

Aku banting gitar coklat itu ke lantai dan tak sangka menimbulkan beberapa senar putus.

” Pia!” Lona buru-buru menghampiri gitarnya itu ” Kamu tau kan ini kado ulang tahun aku”

” Aku tau” jawabku dingin

Lona, yang sudah berkaca-kaca, menatapku tak percaya.

” Pia, kamu . . .”

” Apa?”

” Jangan salahin kalo tangan dan rambut kamu jadi kayak gitu” suara Lona cukup keras sekarang ” Siapa yang duluan ngusulin untuk jadi cowok? Kamukan! Kamu yang pengen jadi cowok. Kamu yang ngotot mau deketin Rifan padahal kamu tau dia itu homo! Kamu ingetkan saat kamu liat Rifan dan Arla mojok di warnet? Apa kamu lupa?”

Aku terdiam. Tentu saja aku ingat. Aku ada disana, terpisahkan oleh dua buah komputer. Dan kalo gak salah denger, seseorang di komputert sebelah bahkan bilang kalo mereka sempat berciuman.

” Kalian kenapa?” Kak Rio datang dan kaget melihat gitar Lona yang babak belur ” Gitarnya kenapa?”

” Kak, aku pamit pulang” Lona membereskan gitar beserta apapun yang terpisah darinya. Dia melewatiku tanpa berkata apapun lagi.

” Kalian berantem?”

Huhu, kenapa jadi panjang gini? Masa kayak gitu aja berantem?

Berhari-hari sesudah itu, aku merasa menyesal. tapi aku gak yakin Lona mau maafin aku. Apalagi dengan rusaknya gitar miliknya. Gitar itu emang gak pernah disentuh Lona, tapi bukan berarti gitar itu rongsokan buat Lona.

Aku tetap melatih kecowokanku sambil mempersiapkan diri untuk masuk lingkungan universitas yang pasti masih asing buatku. Kak Rio nyari-nyari alesan yang aneh saat aku minta dianterin dan aku akhirnya naik angkutan umum.

Jalanan cukup macet karena ini jam makan siang. Aku mencoba sabar dan menunggu. Kadang terhibur juga dengan pengamen-pengamen yang selalu ada di lampu merah. Lama-lama aku iri dengan mereka. Mereka bisa main gitar dan maini lagu yang lagi booming. Aku?

” Masih marahan sama Lona?” tanya Kak Rio saat malam

” Iya”

” Kamu gak coba buat minta maaf?”

” Aku belum punya duit buat beliin dia gitar”

” Tapi kayaknya kamu gak usah deh”

” Hah?”

Kak Rio memperlihatkan apa yang dari tadi dipegangnya. Sebuah gitar!

” Ah, makasih, Kak!”

Aku mau mengambil gitar itu tapi keburu dijauhkan.

” Kak?”

” Mau aku ajarin gak?”

” Serius?”

Nah, Kak Rio udah mau berbaik hati ngajarin Pia gitar. Tapi buat apa ya? Trus kapan Pia bakal minta maaf sama Lona?

Jari-jariku jadi korban lagi. Tapi tak apalah. Kak Rio mengajarku dengan perlahan dan aku juga jadi sering naik angkutan umum hanya untuk melihat bagaimana mereka bermain. Ternyata banyak dari mereka sedang belajar juga. Aku tidak sendirian berarti.

Setelah berlatih hampir seminggu, aku bisa merampungkan sebuah lagu. Tapi aku kesulitan pas bagian akhirnya. Semoga Lona cepet maafin akunya jadi aku gak usah mainin selagu penuh.

Benar saja. Lona sudah keluar dengan tatapan terpana ketika melihatku menyanyikan sebuah lagu didepan rumahnya.

” Hai, maafin aku ya” pintaku sambil tetap memainkan gitar.

Lona memandangku lama dan tak mengucapkan sepatah katapun

” Lona, maafin ya” pintaku lagi ” Jari-jari aku sakit nih”

Kali ini Lona tersenyum mendengar kata-kataku itu. Dia menghampiriku dan langsung memelukku.

” Lona?”

” Ssst! Diem dulu. Aku maafin kamu koq dan ada Rifan dibelakang”

” Apa?”

Aku membalikkan badan dan menemukan Rifan dan Yeqi. Yeqi bertepuk tangan atas aksiku tadi sedangkan Rifan diam saja. Tapi bukan tatapan dingin seperti biasanya. Tatapan itu terlihat penuh kekecewaan.

Kenapa Rifan kecewa? Wah, seharusnya Pia kenalan dulu sama Rifan sebagai cowok. Harus diralat lagi. Tapi aku males ngetik nih.

Sunday, June 21, 2009

Going 18

Seneng deh dapet ucapan dari banyak orang hari ini. Gak cuma orang rumah atau temen-temen yang kirim SMS pas tengah malem. Wall aku juga cukup penuh dan beberapa orang yang hanya sekedar kenal, bisa inget dan ngucapin pas ketemu disekolah. Ternyata mereka udah online pagi-pagi dan liat remender di home yang bilang aku ultah hari ini.

Tadinya aku mau pergi jalan-jalan dengan bday girl yang lain. Tapi ternyata ulang tahun di malam minggu itu susah juga. Apalagi kalo gak punya cowok. Bday girl yang lainnya malah diajakin malam mingguan sama bebinya. Trus film-film bagus kayak Transformers atau Star Trek juga belum tayang di Bandung. Padahal aku baca di blog orang kalo mereka udah nonton Star Trek dan bahkan 17 again. Uuh, mau!

Film Indonesia lagi ngerajain bioskop nih. Tapi aku pengennya film action gitu. Bukan film drama percintaan yang full atau mungkin horror. Indonesia mungkin banyak kalo horror, tapi action masih harus nunggu deh.

Aku juga nerima keterangan nilai Ujian Nasional aku hari ini. Ekonomi aku jelek dan aku emang kurang yakin dengan jawaban aku. Sedangkan nilai tertinggi aku ada di Bahasa Inggris. Tapi yang terpenting aku dan temen-temen satu angkatan lulus!




Friday, June 19, 2009

Premiere Today

Idling

Seneng rasanya bisa nyelesein semuanya dengan sempurna. Lulus UN walaupun belum tau nilai pastinya dan masuk UPI. Dua resolusi untuk tahun 2009 ini udah tercapai dua. Tapi hari-hari menjadi ex-anak SMA dan calon mahasiswa terasa membosankan.

Enak sih, bangun bisa siang, bebas dari les intensif dan try out, pokoknya santai, relax dan idle. Paling entar cap tiga jari, ngambil ijazah, difotocopy, dilegalisir dan registrasi ke UPI bulan depan. Lalu aku bingung, ngapain ya hari ini? My mom kebetulan ada kerjaan meriksa ulangan kenaikan kelas dan nawarin ke aku. Aku sih seneng-seneng aja dan nerima itu. Ini emang kerjaan aku dari dulu kalo di akhir semester, tapi berhubung setahun kemaren aku lagi hectic banget sama UN, sempet cuti juga. Sekarang job itu dateng lagi, entah karena bonus yang dikasih my mom kecil atau emang pemalesan banget, 150 lembar jawaban itu masih rapi.

Sumpah, males banget. Tapi gak enak juga kalo ditolak. My mom masih banyak kerjaan lain. Sampe saat ini baru diperiksa selembar dan itu juga belum semuanya.

Nb: H-2 to my birthday. Aku mulai nyiapin kayak gimana entar. Dan iseng-iseng pake headband dari kalung yang dipake pelepasan kemaren.

Thursday, June 18, 2009

He Is Me


Kita sudah kenal hampir enam tahun. Tapi tiga tahun belakangan ini aku terperangkap dan kecanduan tatapannya.

Awalnya aku hanya iseng dengannya. Melampiaskan hal-hal yang pasti dianggap aneh oleh teman-teman berseragam putih biruku. Semakin lama aku jadi ketagihan dan terikat dengannya.

Dia mengerti aku. Segalanya tentangku. Tentang keluh kesahku, kemanjaanku dan keinginan terpendamku. Dia suka aku apa adanya. Dia juga tidak marah jika aku membicarakan laki-laki lain yang sedang dekat denganku.

Haha, tapi aku tahu dia sebenarnya menahan cemburu.

Dia seharusnya tak perlu cemas. Karena tanpa sadar, siapapun laki-laki yang sedang dekat denganku akan terlupakan saat dia mendekapku.

Dia sering membuat cerita-cerita memujaku. Betapa berharganya aku dan beruntungnya dia mendapatkan aku. Dia selalu mendapat peran dimana dia bersalah dan berlumuran dosa. Dia lalu memohon, menangis, dan meneriakkan namaku. Bahkan dia menderita untukku.

Aku segalanya buat dia dan begitu pula sebaliknya.

Malam adalah saat yang tepat untuk bertemu dengannya. Diiringi sebuah lagu cinta yang pelan, kita melakukan banyak hal. Aku sampai rela mengorbankan waktu tidurku. Karena aku tahu saat aku bangun di hari berikutnya, dia sudah berubah.

Malam-malam penuh bisikan itu sudah berumur enam tahun. Aku mulai menyadari ada yang salah dengannya. Dia sempurna, terlalu sempurna untuk mengarungi kehidupan nyata.

Aku sekarang akan menginjak masa kehidupan yang baru. Aku akan pindah dari kamar itu dan tidak berniat mengajaknya. Aku ingin sembuh dari segala virus-virus serta cumbuannya. Aku sadar aku bisa gila karena ini.

Dua bulan ini jadi masa terakhir dengannya. Ini berat untukku dan dirinya. Tapi ini harus dilakukan walaupun pada akhirnya aku akan kehilangan setengah bagian dari hatiku.

Tuesday, June 16, 2009

She Is (OST My Lovely Sam Soon)

Sumgyowatdon naui sujubun maum modu nege julge yeiyeh
chagaun narul umjiginun noui miso

dadhyoitdon naui oduun maum modu nege yolge yeiyeh
jidoghan nege uimirul jun noui sarang

Choumen al su obdon nomane hyanggiga nukkyojyo
shigani hurulsurog nanun byonhago byonhane

Oh ne sesang gadug bichul nerigo
she is the girl what she is the one
modun gon noroinhe byonhe

Sumgyowatdon naui sujubun maum modu nege julge yeiyeh
chagaun narul umjiginun noui miso

Choumen al su obdon nomane hyanggiga nukkyojyo
sesangun nega isso byonhe
let it change

Dadhyoitdon naui oduun maum modu nege yolge yeiyeh
jidoghan nege uimirul jun noui sarang
sumgyowatdon naui sujubun maum modu nege julge yeiyeh
chagaun narul umjiginun noui miso
dadhyoitdon naui oduun maum modu nege yolge yeiyeh
jidoghan nege uimirul jun noui sarang
chagaun nege ongirul jun noui miso

Monday, June 15, 2009

Books Tour

Aku mampir ke Gramedia BSM setelah dapetin necklace yang aku pengen. Ceritanya sih mau baca Eclipse kayak waktu itu, tapi banyak majalah yang tanpa plastik menggoda. Tapi gak ada satupun tentang film.

Akhirnya ada keliling beberapa kali sambil ngebeles SMS temen-temen yang nanyain kapan amplop kelulusan dateng kerumah. Jawaban aku selalu sama. 16 juni, say!

Seneng deh nemuin buku-buku yang diangkat jadi film.




And i’m very want this!


Many version cover of Layla Majnun


Yang aku temuin di perpustakaan sekolah yang kayak gini,


Bisa gitu?


Hm, kayaknya aku sudah nemuin solusi sampah bungkus sampo aku.


Sunday, June 14, 2009

Catch The Balloons!

Messages On The BalloonsProlog

Setiap sore aku menulis harapan, cita-cita, atau kekecewaan di selembar kertas. Tertuang juga kelanjutan kisahku setelah foto pernikahan kedua Papa dipajang.
Lalu aku berlari bersama semua perasaanku itu. Berlari keluar jejeran rumah kembar, meninggalkan jalanan lurus dan berbelok kesebuah gang. Sempit gelap. Tapi kemudian terasa lapang ketika melihat layang-layang berkibaran.
Hanya lahan kosong tempat bermain anak. Namun jika menelusurinya beberapa langkah, banyak pedagang kaki lima menjajakan barang yang akhirnya terbuang sia-sia.
Aku membelinya. Pilihanku jatuh pada sebuah balon gas. Kali ini kupilih warna hijau, setelah kuning kemarin, biru dua hari yang lalu dan kelabu saat sebuah makam ditutup.
Kuikatkan perasaanku lalu membebaskannya keudara. Semakin lama semakin kecil dan benar-benar menghilang. Saat itulah aku kembali ke rumah.
Ku harap balon hijau itu tidak meletus.

***

Aku bangun pagi sekali hari ini. Langsung ku sambar sapu lidi dan menyapu rumput yang basah. Sebenarnya tugas ini sudah ada yang punya dan akupun punya bagian sendiri. Tapi aku penasaran dengan apa yang terjadi kemarin.
Tukang kebun sesungguhnya datang dan mencegahku melanjutkan tugasnya. Aku menolak. Kita jadi berebut sapu dan membuat keributan. Ibuku langsung datang dan menarikku menjauh.
Ibuku mengomel, pelan tapi pedas. Anehnya malah kakiku yang merasa kesakitan dan perih. Ternyata sesuatu menyangkut. Sebuah benang ah bukan tali tipis. Sesuatu berwarna hijau juga ada didekatnya.
Ini dia yang aku tunggu!
Segera ku ambil dan benar saja. Gulungan kertas yang lembab ada disana. Aku harus mengeringkannya terlebih dahulu. Lalu aku bisa membaca kata-kata yang ada.
Aku tak bisa lama, Tuan Muda menungguku.


Aku sebenernya udah bikin prolog untuk cerita ini. Diawali dengan lagu Balonku dan monolog sang tokoh utama. Tapi terasa kurang pas. Cerita yang lain prolognya narasi tokoh utama atau konflik dan aku ingin juga di Messages On The Balloons ini juga begitu.
Ide cerita ini terkumpul dari beberapa kejadian yang sudah terjadi dari kecil. Aku pernah dibeliin balon gas saat berobat di puskesmas dan balon gas itu terlepas dari tangan aku. Memang tertahan oleh langit-langit ruang tunggu itu, tapi my mom lebih memilih beli lagi. Aku juga suka penasaran dengan balon-balon yang dilepas pada masa MOS atau ospek, kemana nyampenya?

Nb: aku udah dapet kebaya yang cocok dan warnanya PINK!