Thursday, October 29, 2009

Premiere Today

Ruma Maida

Berkisah tentang Maida, seorang gadis kikuk yang idealis. Telah dua tahun ia mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Disulapnya sisi dalam bangunan rongsok itu bagai istana putri salju dan para kurcaci. Meja dan bangku dibuat dari sisa kayu. Perlengkapan kelas dibuat bersama dari barang bekas

Pada suatu hari, seorang pengusaha membeli kavling itu dan hendak mengubahnya menjadi sentra bisnis. Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Ia berjuang keras untuk mempertahankan istananya. Dalam perjuangannya, Maida justru menyibak misteri dan sejarah bangunan tua tersebut. Bangunan itu pernah menjadi saksi atas kisah cinta yang syahdu dan tragis antara dua insan dengan latar pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia


Putih Abu-Abu Dan Sepatu Kets



Tiga sahabat, Flory, Kemala, dan Icha. Usia mereka 14 tahunan, duduk di kelas 1 SMU. Tidak pernah ada rahasia diantara mereka. Mereka menjalin persahabatan dengan Dea, teman satu sekolah mereka yang nekad berusaha bunuh diri dengan. Dea depresi karena cowoknya Adit telah merekam dan menyebarkan adegan mesra mereka ke teman-teman sekolah Dea melalui internet dan telefon genggam

Persoalan keluarga Flory adalah yang paling rumit dalam hidupnya, apalagi saat orang tuanya bercerai karena ibunya ternyata seorang lesbian

Kemala, selalu ingin tahu hal-hal yang berbau dewasa, dinatara teman-temannya, dia adalah orang pertama yang mendapat menstruasi dan pacaran. Semua yang dia alami selalu diceritakan pada teman-temannya. Berbeda dengan Icha yang merasa belum sempurna karena belum menstruasi

Persoalan hidup dan mencari cinta mengajarkan mereka banyak hal. Satu persatu masalah mereka selesaikan dengan cara mereka. Dan mereka sangat menjaga yang namanya harga diri. Mereka tidak mau terjerumus pada hal yang negatif walaupun masalah yang mereka hadapi tidaklah mudah…

Monday, October 26, 2009

Michael Buble-Haven't Met You Yet

jujur, aku ngerasa ketinggalan banget soal lagu-lagu baru dari dalam dan luar negeri. ini gara-gara aku sibuk kuliah, UKM, himpunan dan juga tentunya ospek di kampus baru ku. untungnya aku kemaren punya waktu untuk santai sejenak. langsung deh dengerin radio and fall in love with this song!





Lyrics

I'm not surprised,
Not everything lasts,
I've broken my heart so many times I stopped keeping track.
Talk myself in,
I talk myself out,
I get all worked up,
Then I let myself down,

I tried so very hard not to loose it;
I came up with a million excuses,
I thought I thought of every possibility,

And I know some day that it’ll all turn out,
You'll make me work so we can work to work it out,
And I promise you kid that I give so much more than I get~ mmm.......
I just haven't met you yet.

Mmmmm ....

I might have to wait,
I’ll never give up,
I guess it's half timin', and the other half's luck,
Wherever you are,
Whenever it's right,
You'll come outta nowhere and into my life.

And I know that we can be so amazin',
And baby your love is gonna change me,
And now I can see every possibility, mmmmmm....

Somehow I know that it’ll all turn out,
You'll make me work so we can work to work it out,
And promise you kid, I'll give so much more than I get, mmmm....
I just haven't met you yet.

They say all’s fair
in love and war
But I won’t need to fight it,
we'll get it right an',
we'll be united

Instrumental

and I know that we can be so amazin',
And bein' in your life is gonna change me,
And now I can see every single possibility, mmmmmm

And someday I know it'll all turn out,
And I'll work to work it out,
Promise you kid I’ll give more than I get
Than I get, than I get, than I get.

Oh, you know it'll all turn out,
and you'll make me work so we can work to work it out,
And promise you kid to give so much more than I get, yeah
I just haven't met you yet.

I just haven't met you yet,
Oh, promise you kid,
To give so much more than I get.

I said love love love love love love love.....
I just haven't met you yet
Love love love .....
So doy day ay ay ay, ay ay yeah
I just haven't met you yet!

Masalah

Aku suka dia
Dia suka aku
Lalu apa masalahnya?

Dia itu tipe aku banget
Mengerti sifat-sifat aku
Bukan perokok pula

Aku juga tipe dia banget
Aku cinta pertamanya
Dewi penolong dia

Tapi kenapa kita tidak bisa bersatu?
Apa masalahnya?

Susah sekali mengenalkannya ke teman-teman
Sama sulitnya melepas dia
Karena dia tak nyata
Itu masalahnya.

Friday, October 23, 2009

Thursday, October 22, 2009

"Enam Tahun"

Enam tahun
Waktu yang tidak sebentar
Menyebalkan aku ingat itu

Apalagi matanya itu
Menatap setiap gerakku
Dan jangan lupa dengan tangannya itu
Menelusuri setiap helai rambutku

Sebulan lalu kutinggalkan
Sebulan kemudian dia kembali
Karena dia tahu
Aku hancur tanpanya

Sunday, October 18, 2009

Friday, October 16, 2009

"Perjalanan Pulang"

jadwalku padat di minggu lalu,kini dan yang akan datang. semua mengeluh. aku tak bisa bohong kalau aku juga cape dan sangat ingin mengeluh.

tak ada waktu sedikitpun untuk tiduran, baca majalah atau nyanyi-nyanyi sumbang seperti biasa. aku pun kehilangan arti dari hari MINGGU.

dan tak ada waktu untuk DIA. ya DIA yang telah aku tinggalkan sekitar sebulan yang lalu. DIA datang lagi dan aku menyambutnya, dengan ragu.

lagi-lagi DIA aku jadikan tempat pelampiasan. DIA selalu dengan senang hati menerima kenyataan itu. tapi kenapa malah DIA yang menangis?

"padat lagi?"tampak jelas kekecewaan di wajahnya itu. "Iya" jawabku pelan "mau gimana lagi. kamu taukan gimana cara berpikirku?"

"tentu saja aku tau!" jawabnya girang. memang kamu tau, pikirku. cuma KAMU tepatnya."mungkin aku kembali di saat yang tidak tepat"

DIA berbalik. "jangan pergi!" seruku. seketika langkahnya berhenti. aku kaget dengan perasaanku, karena tak pernah aku selega ini.

aku masih kaget saat DIA kembali ke hadapanku. "berarti aku datang disaat yang tepat,kan?" tanyanya memastikan. ada nada senang disana.

aku ragu tapi kujawab juga, "iya . ." lalu ku tatap matanya and HIS eyes told me everything. itu lebih dari cukup buatku.

"apa kerjaan malam ini?" tanyanya sambil merangkulku. DIA mengerti aku, membiarkanku menjalankan semua ini, padahal aku sudah sangat payah!

"cuma essay" jawabku tak yakin. cuma. lucu sekali kata itu. kalo memang gampang, kenapa tak sepatah kata pun aku tulis?

"kalo begitu cepat selesaikan" desaknya "dan kita bisa membuat skenario kita lagi" hatiku rada miris. skenario kita? masih adakah?

"aku curiga kamu lupa dengan proyek skenario kita yang kamu rencanakan dua bulan kebelakang" tuduhnya. memang! teriakku dalam hati.

skenario, skenario kita, skenario tentang cerita kita selama 6 tahun. seharusnya cuma jadi kenangan, bukan untuk dibangkitkan setiap saat.

"masih niatkan buat nulisnya?"tanya DIA sambil menatapku. ada rasa takut disana. "Hm, dalam bentuk skenario atau essay?" DIA terbahak.

"ok, ok. tulis tugas essay kamu dulu. baru kita bicarain hal itu kemudian, ya?" aku hanya mengangguk. "kamu kecil sekali" komentar yang sama

"terus masalahnya apa?" tanyaku agak sewot. semua ingin menjadi seperti diriku, aku bangga dengan hal itu. tapi dia malah membuatku jatuh.

dia terkekeh sebentar. "justru itu kelebihan dari kamu" jawaban yang aneh buatku. kecil? kelebihan? aku malah kekurangan berat badan.

"rasa memeluk orang yang lebih kecil dari kita itu beda tau" lalu dia memelukku. wajahku langsung memerah. "itu kelebihanmu"

apa itu essay, apa itu layar komputer yang bergoyang-goyang, apa itu lingkaran hitam. satu yang sangat ingin ku ucapkan..

"i'm home . ." bisikku dan dia menjawab "yes, you are, dry"


Wednesday, October 14, 2009

Premiere Today


Di hari yang seharusnya menyenangkan, Nick O’Bannon justru mendapat firasat serangkaian kecelakaan dan menjadi kenyataan yang mengakibatkan beberapa temannya tewas. Ingin keluar dari mimpi buruk tersebut, Nick beserta kekasihnya, Lori dan teman mereka yang selamat, Janet dan Hunt, memutuskan meninggalkan tempat tersebut sebelum firasat kedua Nick menjadi kenyataan

Terbebasnya mereka dari maut ternyata bukanlah akhir, namun awal bagi Nick dan Lori. Firasat Nick yang terus muncul dan membuntuti mereka satu per satu hingga tewas – Nick harus menemukan cara untuk menyelamatkan diri sebelum ia menjadi korban

RAN's New Video Clip

Rumah Buku

Sejak dibuka tanggal 9 September 2009 kemaren, aku pengen banget dateng ke toko buku ini. Aku ngeliat unik aja, dan tentunya banyak diskon buat buku baru. Akhirnya aku bisa ke sana, dengan mendadak.

Ternyata sebagian isinya adalah buku-buku lama. Ada sih buku baru seperti Twilight saga, tapi untuk novel-novel kebayangan terbitan lama. masih baru koq dan diskon! Sayangnya toko buku ini kosong dan sepi, menututku, buku-bukunya juga agak berantakan. tapi cocok lah untuk nyari buku-buku diskon!





wow!




Rumah Buku
Jalan Supratman No. 99
Bandung

I found RAN as Trax cover!!

Saturday, October 10, 2009

Random Thought

" Kalau terlalu banyak ide di kepala harus disalurkan. Agar tetap waras. "
Sitta Karina

Friday, October 9, 2009

My Facebook


Aku baru pertama kali liat video clip lagu Gigi yang judulnya My Facebook begitu pulang kuliah (well, video ini dari acara Dahsyat). Jadi teringat dengan apa yang terjadi di dalam social network itu. Dosen aku pernah bilang kalau Facebook itu membuat pemiliknya jadi seseorang yang narsis, karena selalu saja membuat status tanpa peduli seberapa annoyingnya status itu. Aku sempet gak setuju, karena lewat Facebook kita bisa ketemu dengan teman-teman zaman dulu yang sudah lama lost contact dengan kita. Di Facebook juga aku bisa sharing tentang tulisan aku dan komentarnya lumayan. Tapi sekarang, aku sangat setuju dengan pendapat dosen aku itu.

Banyak hal, pemikiran dan prasangka baik atau buruk yang timbul dari SEBUAH status. Yang paling banyak tentu saja prasangka yang buruk. Kita tidak tahu pasti kenapa, dengan alasan apa dan untuk siapa sebuah status itu dibuat. Sehingga kita selalu penasaran dan membuat kesimpulan sendiri.

Aku dan kedua teman aku mengalami hal yang sama tentang Facebook. Ini tentang cinta tentunya. Ada status DIA yang kita tak tahu maksud dan tujuannya apa, tapi tanpa sadar membuat hati kita bertiga sakit dan penuh dengan penyesalan. Salah satu dari kita sudah tidak pernah membuka account Facebooknya selama tiga bulan. Temanku yang kedua bahkan akan memulainya. Sedangkan aku tak tahu kapan.

Aku masih update status, tapi lewat Twitter. So, please follow my Twitter.

Thursday, October 8, 2009

3 Anak Kucing-Book 2-Chapter 3



Iya, Udith mencium bibirku, calon saudara tirinya. Kecupan itu bikin aku kaget setengah mati. Tapi itu hanya sekejap, beberapa detik kemudian Udith menarik wajahnya dan menatapku lagi.
” Udah baikan?” dengan wajah memerah dan dagu sedikit perih, aku cuma bisa mengangguk ” Baguslah” lalu Udith menarikku kepelukannya. Memelukku erat banget.
Aku gak tau apa yang ada dipikiran Udith. Dia cium dan meluk aku, calon saudara tirinya. Sejak kapan itu boleh? Tapi, aku ngerasa bener-bener seneng. Saudara tiri? Ngapain mikirin itu sekarang? Yang penting sekarang, aku dan Udith
Seperti ciuman tadi, pelukan ini juga singkat. Udith melepaskan pelukannya dan memandangku sambil tersenyum
” Udah ya” katanya. Tadinya aku mau nolak ” Ada Tama” tapi kata-kata berikutnya yang bikin aku sadar ada Tama berdiri didekat sofa
” Kenapa kalian pelukan?” tanya Tama ” Udith!”
” Friesca luka, Kak” Udith menunjuk plester didaguku ” Tadi dia jatoh dan kegores pisau”
” Pisau?” Tama langsung duduk disebelahku dan mengamati daguku ” Gak apa-apakan?”
Yang namanya luka pasti sakit tauk! Batinku dalam hati. Tapi aku gak ngomong itu ke Tama. Aku cuma menggeleng pelan
” Syukur, deh” Tama tersenyum. Aku gak membalas senyum itu. Bukan itu yang aku mau. Aku ingin dipeluk Udith
” Fries, udah baikan?” Bunda datang dengan Ayah. Sepertinya Bunda juga kena minyak panas tadi
” Udah koq” jawabku. Bunda terlihat lega
” Kita kemeja makan sekarang?” tanya Ayah ” Keburu dingin oseng brokolinya”
” Loh, siapa yang masak?”
” Ayah dong” jawab Ayah bangga ” Kamu lupa betapa enaknya masakan Ayah kamu ini?”
” Enak?” Bunda ikut bercanda ” Kalo begitu kita ke meja makan dan coba oseng brokolinya”
” Siapa takut” Ayah dan Bunda berbalik dan pergi meja makan
” Ayo” Tama menggengam tangan kananku dan pergi menyusul Ayah dan Bunda
” Ng . . .” aku menoleh ke arah Udith yang ternyata masih pake seragam putih abu SMU Harapan. Udith tersenyum. Dia berdiri dan berjalan disampingku. Tanpa diketahui Tama, Udith mengenggam tangan kiriku.
***
Nah, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Ayah dan Bunda tiba juga. Hari pernikahan.
” Ini gantungan kuncinya” aku memberi gantungan kunci berbentuk hati yang jadi tanda mata pernikahan Ayah dan Bunda ke seorang anak kecil
” Makacih” katanya lalu pergi dengan Ibunya yang salah satu rekan bisnis Ayah. Aku tersenyum dan duduk dikursi. Dari kursi itu aku mengamati pakaian Udith yang sedang memberi tanda mata juga.
Udith lucu banget dengan pakaiannya. Aku langsung berdiri lagi ketika seorang tamu datang. Buru-buru aku ambil sebuah tanda mata. Wuih, ternyata sibuk banget kalo jadi pagar ayu. Pake baju yang ngetat gini. Aku mengamati kebayaku ketika sang tamu masih menulis namanya. Dan diem diluar terus. Ayah dan Bunda sih enak didalem gedung yang full AC. Ups, jangan gitu deh. Merekakan pengantinnya.
Aku tersenyum sambil menyerahkan tanda mata itu. Tamu itu pergi ke dalem dan aku langsung duduk lagi
” Cape ya?” tanya Udith yang juga sedang duduk
” Iya” jawabku
Lalu aku dan Udith saling berpandangan. Lama dan dalam. Entah kenapa aku ngerasa tambah deket sama Udith semenjak kejadian ciuman itu. Ya, walaupun ada Tama , aku ngerasa Udith gak ngelindungin kakaknya yang sekarang kakakku juga.
” Laper gak?” aku mengangguk ” Nanti kalo kakak dateng, kita makan yuk”
” Nanti dia sendirian” kataku
” Kan ada Kak Namira” Namira itu sepupu Tama dan Udith. Dia udah kerja dan kebetulan dia juga ikut jadi pagar ayu. Dia dipilih karena dia deket banget sama Bunda. Apalagi Bunda ingin banget punya anak cewek
” Iya, deh” Udith tersenyum. Tama yang melihat itu datang dengan ekspresi marah
” Ini tanda matanya” dia membanting kotak itu ke meja. Sampai beberapa gantungan kunci berhamburan
” Tama, yang rapi dong” itu Kak Namira. Dengan wajah sedikit kesal, Namira memunguti gantungan kunci dan menyimpannya lagi.
” Kak Namira” Namira menoleh dari kegiatan mengatur tanda mata ” Udith sama Friesca kedalem ya. Belum makan nih”
” Nanti balik lagi koq” tambahku
” Oke” jawa Namira
” Aku juga ikut” kata Tama. Namira menggeleng
” Kamu udah banyak banyak tadi” kata Namira ” Masa aku sendirian disini”
” Tapi . .”
” Duduk!” Tama duduk dan cuma bisa memandangi aku dan Udith yang masuk ke dalem gedung. Namira geleng-geleng kepala melihat kelakuan Tama. Udah gede, masih aja manja. Kenapa sih dia? ” Tam, ada tamu tuh”
Tama langsung berdiri dan menyiapkan tanda mata yang dibawanya tadi. Dia terpaku begitu melihat tamunya
” Shyra . . .” tapi Shyra yang datang bareng Ogy gak kaget sedikitpun
” Hai” sapa Shyra. Dia mengambil tanda mata yang disodorkan Tama ” Friesca dan Udith mana?” bukannya menjawab, Tama malah nanya balik
” Koq kamu ada disini?” tanya Tama. Shyra tersenyum sambil mengacungkan undangan pernikahan
” Mama aku diundang. Tapi kebetulan ada urusan lain. Makanya aku sama Ogy dateng ngegantiin” jawab Shyra ” Friesca sama Udith mana?”
” Mereka didalem, lagi makan” jawab Tama pelan
” Makasih ya” lalu Shyra dan Ogy masuk kedalem. Tama langsung terhenyak dikursinya. Friesca gak pernah bilang Mama Shyra termasuk daftar undangan.
” Kenapa?” Namira bingung melihat perubahan Tama ” Cewek tadi mantan kamu ya?”
” Bukan. Dia temen sebangku Friesca” jawab Tama pelan
” Trus, kenapa kayak yang sedih gitu?” tanya Namira lagi
” Aku . . . gak tau” mata Tama mengikuti Shyra dan Ogy yang menghilang ditengah kerumunan tamu undangan yang lain.
Sementara itu, aku dan Udith sibuk makan didalam. Dan mereka bertemu Shyra dan Ogy
” Shyra, Ogy” tanganku melambai-lambai senang
” Wow, kebayanya cocok banget sama kamu” kata Shyra. Aku malah cemberut
” Muji apa ngehina sih?” Shyra tertawa. Sedangkan Udith sibuk ngobrol sama Ogy
” Makanannya enak-enak loh” kata Udith berpromosi
” Kamu emang tukang makan” tapi Ogy malah mencomot satu tusuk sate Udith
” Udith itu sama kayak Friesca” kata Shyra ” Sama-sama tukang makan” gak tau kenapa, aku sedikit tersipu mendengar itu
” Ra, kita belum kasih selamet ke Ayah Friesca” kata Ogy
” Oh iya. Kalo gitu kita pergi dulu ya” Shyra dan Ogy pergi ” Jangan kangen ya”
” Gak akan!” Udith tertawa kecil mendengarku ” Kenapa?” tanyaku
” Nggak. Ayo, makan lagi” Udith menambah beberapa tusuk sate dipiringku ” Kak Namira kayaknya udah nunggu”
” Iya, bener!” aku langsung menghabiskan sateku. Tapi, Udith menambahnya lagi ” Dith, udah dong”
” Biar kamu gede” kata Udith
” Aku udah gede tauk” Udith tertawa. Udith jail banget sih! Tapi, aku gak marah sama sekali.
Yang marah adalah Tama, yang diam-diam memandangi mereka dari luar.
***
” Hati-hati ya” kataku sambil cipika cipiki sama Shyra ” Maen-maen ke rumah ya. Kitakan libur sekolah. Jangan lupa! Ajak Ogy sekalian”
” Sip, deh” kata Shyra ” Ogy, ayo. Dadah, Udith” Udith membalas lambaian tangan Shyra itu dengan sebuah senyuman. Ih, Udith lucu banget!
” Udith, bantuin kita” kata Tama yang sibuk membereskan sisa-sisa pernikahan
” Gak usah” kata Namira yang juga sedang beres-beres ” Kalian beresin makanan aja”
” Asyik” seruku senang ” Aku mau beresin es krimnya”
” Ngabisin kali” goda Udith. Mereka lalu pergi ke belakang. Tinggal Tama dan Namira
” Kenapa kamu ngebiarin mereka bareng?” tanya Tama disela-sela kesibukannya
” Emang kenapa?” Namira bingung mendengar pertanyaan Tama itu
” Mereka enak terus dari tadi” kata Tama ” Aku? Liat aku sibuk sendiri”
” Kamukan udah gede. Harus belajar bertanggung jawab dong” jawab Namira
” Mereka juga udah gede. Udah kelas 2 SMU”
” Kamu udah kuliah” kata Namira ” Dan aku udah kerja. Mana yang lebih gede?”
Tama emang gak pernah bisa ngelawan Namira. Dari dulu sampai sekarang. Dulu mereka selalu main bareng karena Bunda deket sama Namira. Walaupun Namira lebih tua dari Tama.
Namira masih sama kayak dulu, batin Tama kesal. Keras kepala dan gak mau ngedengerin hal lain yang gak sesuai sama prinsipnya. Selesai membereskan, Tama bergegas menghampiri aku dan Udith. Tapi, lagi-lagi Namira melarang
” Tam, tolong beresin yang itu” perintahnya
” Tapi itu bagian kamu” protes Tama
” Kamukan cowok” lagi-lagi Tama gak bisa ngelawan. Dia membereskan sampah-sampah itu. Kenapa harus kita yang beresin sampah-sampah ini? Gak ada orang yang bertugas ngebersihin apa? Pandangan Tama mengarah ke aku dan Udith yang lagi makan es krim. Ternyata usah ada orang lain yang ngeberesin makanan
” Inikan udah sore hampir malem” kata Udith ” Kamu masih aja makan es krim”
” Kamu juga” balasku
” Gak takut sakit?”
” Sebenernya es krim itu bikin badan anget tau” kataku ” Gak tau ya?” Udith menggeleng
” Aku tau sesuatu yang bikin badan kamu anget selain es krim” guman Udith
” Selimut?” Udith menggeleng ” Jaket?” Udith menggeleng lagi
” Gak tau ya?”
” Tau!”
” Apa?” aku diam sejenak lalu menjawab dengan bisikan
” Kamu ya?” kali ini Udith tersenyum dan mengangguk
” Iya” lalu dia merangkulku. Cuma rangkulan kecil. Kalo pelukan, nanti yang lain khususnya Ayah dan Bunda yang lagi difoto bareng keluarga besar bisa curiga. Udith bener, badan aku jadi anget. Tapi, aku ngerasa ini karena rangkulan Udith. Mungkin ini karena aku yang deg-degan deket sama Udith.
” Udah nih” kata Tama.
” Yang itu belum” Damn, kapan aku bisa deket sama Friesca kalo gini terus? Mata Tama mencari cewek itu dan kaget begitu melihat mereka lagi rangkulan. Udith!
” Udith . . .”
” Ya?” Udith memandangku ” Apa?”
” Gak jadi, deh” Udith tersenyum mengerti dan menghabiskan sisa es krimnya. Aku yang melihat senyum Udith yang cute itu juga berusaha menghabiskan sisa es krimku.
Apa Udith udah berubah? Dari ujung sini, aku bisa ngeliat betapa marahnya Tama ngeliat Udith ngerangkul aku. Tapi, Udith keliatan nyantai aja. apa dia udah memberontak? Apa dia cape ngelindungin kakaknya itu?
” Udith . . .” panggilku
” Apa, Fries?”
” Tama ngeliatan tuh” mataku mengarah ke Tama diujung sana
” Biarin aja” jawab Udith santai ” Ngapain mikirin dia? Yang pentingkan aku sama kamu” aku bener-bener seneng ngedenger itu
Di ujung sana, Tama gak ngerasa rasa senengnya aku
” Tama, nanti tumpuk sampahnya disana ya” kata Namira
” Udah” kata Tama ” Udah selesaikan?”
” Pot bunganya belom” Tama kaget
” Mir, itukan berat banget” kata Tama ” Gak mungkin aku ngangkat sendiri”
” Biar saya yang ngangkat” seorang bapak-bapak datang dan mengangkat pot itu ” Mas Tama rajin banget ya. Padahal ada orang yang ditugasin buat beres-beres, Mas Tama tetep aja beres-beres sendiri” Tama kaget mendengar itu
” Mir, kamu ngerjain aku” kata Tama. Namira tertawa
” Kena kamu” Namira tertawa makin keras. Bahkan aku dan Udith yang jauh dari sana juga tertawa.
” Tama dikerjain ya” kataku sambil tertawa ” Kasian banget” Udith yang ikut tertawa tidak menjawab. Tama makin kesal bercampur malu
Udith dan Namira, awas kalian!

When The Love Come Back . .

Rada nekat juga sih aku untuk pergi ke Gramedia hari ini. Pulang rapat himpunan yang notabene udah sore, hujan pula, aku masih berani turun di jalan Purnawarman, jalan dikit, dan sampai ke Gramedia. Untung hasil hunting bukunya nggak mengecewakan, walaupun buku-buku itu masih aja nginep di Gramedia. Kapan dong kalian mampir ke kamar aku?? Hehehe,





Buku kedua dari Gallagher Girls,


The best choose,




Judul : Refrain; Saat Cinta Selalu Pulang

Penulis : Winna Efendi

Penerbit: Gagas Media

Ringkasan Cerita :

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin mempertahankannya.

Ini bisa jadi hanya kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cerita harus ada yang terluka.

Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tigas sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.

Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.

Wednesday, October 7, 2009

Random Thought

" Terlalu banyak peran yang harus di lakoni dan yang paling susah adalah menjadi diri sendiri"

Premiere Today


Johnny Deep berperan antagonis sebagai seorang perampok bank bernama Jhon Dillinger. Aksi aksi perampokannya membuatnya menjadi target nomor satu dari agen FBI yaitu J. Edgar Hoover dan Melvin Purvis. Namun dibalik kejahatannya, Dillinger ternyata menjadi pahlawan bagi masyarakat. Pesona Dillinger begitu kuat dan hampir smeua orang menyukainya dari kekasihnya, Billie sampai masyarakat yang kecewa pada bank bank yang telah membaut Amerika terhempas ke dalam masa depresi. Alhasil agen FBI semakin terpacu untuk menangkap Dillinger dan pengejaran pun menjadi panjang dan berliku dengan dibumbui oleh aksi pengkhianatan dan orang orang bermuka dua yang akhirnya dapat membuat masa kejayaan Dillinger berakhir.

Tuesday, October 6, 2009

I Will Survive

Ok, ini hari kedua latihan Kabumi, khususnya latihan angklung. Tapi euforianya masih kenceng. Walaupun aku lebih suka suasana kemaren, apalagi dengan angklung nomor 15 yang lebih enak dari yang aku pegang hari ini. Huhuhu! Oh, iya, Kita masih latihan lagu I Will Survive.

Anya and Puput

Sunday, October 4, 2009

RAN's Lyrics


Karena Ku Suka Dirimu

Suka dirimu
Inginkan dirimu

Wajahmu yang cantik rupawan
Bersinar dari kejauhan
Ku tak sanggup lagi menahan
Gejolak cintaku padamu

Oh tapi aku malu
Saat jumpa dirimu

Karena ku suka dirimu
Dan ku inginkan dirimu
Jadilah milikku selalu
Kan ku jaga kau selamanya kasih
Dan takkan pernah ku lepas lagi
Hanya kamu seorang dihati

Bila ku yakinkan diri ini
Hanya kau yang ada dihati
Oh Tuhan ku mohon buat aku berani
Nyatakan cintaku padanya

Oh tapi ku tetap malu
Saat ku jumpa dirimu
Dan apalah dayaku
Mungkin memang itu

Karena ku suka dirimu
Dan ku inginkan dirimu
Jadilah milikku selalu
Kan ku jaga kau selamanya kasih
Dan takkan pernah ku lepas lagi
Hanya kamu seorang dihati

Ku suka dirimu
Ku inginkan dirimu

Oh tapi ku tetap malu
Saat ku jumpa dirimu
Dan apalah dayaku
Mungkin memang itu

Karena ku suka dirimu
Dan ku inginkan dirimu
Jadilah milikku selalu
Kan ku jaga kau selamanya kasih
Dan takkan pernah ku lepas lagi
Hanya kamu seorang dihati

Hanya kau seorang
Tak pernah ku lepas
Jadi milik lah ku selalu



P.S.K

Tlah lama kasih ku menganggumi dirimu
Tatapan indah mu selalu menghantui ku
Senyum mu cairkan hati yang membeku
Teringat senyum dan canda tawamu
Buatku semakin rindu

Terjerat diriku dalam manisnya cinta
Mengelora hilangkan semua duka
Pesonamu itu tlah membutakan mata
Dan kini kau meninggalkan ku
Engkau dengan yang lain

Pergi sajalah kau kasih
Ku tak ingin melihat dirimu lagi
Tak kan ada lagi ruang
Sedikitpun dihatiku untukmu
Kasih kau tega
Menyia-yiakan cintaku dan menghianati

Kasih kau tega
Sia-siakan cintaku padamu

Oh kasih kau tlah mengoreskan luka ini
Mematahkan cintaku yang tulus dan suci
Jangan pernah kau harapkan ku tuk kembali
Walaupun kau memohon cinta ini

Pergi sajalah kau kasih
Ku tak ingin melihat dirimu lagi
Tak kan ada lagi ruang
Sedikitpun dihatiku untukmu
Kasih kau tega
Menyia-yiakan cintaku dan menghianati

Kau hianati cintaku

Pergi sajalah kau kasih
Ku tak ingin melihat dirimu lagi
Tak kan ada lagi ruang
Sedikitpun dihatiku untukmu
Kasih kau tega
Menyia-yiakan cintaku dan menghianati

Kasih kau tega
Menyia-yiakan cintaku dan menghianati kesetiaanku



Bosan

Bosan ku buang-buang waktu bersamamu
Tak pernah sedikitpun kau mengerti aku
Ternyata kau berbeda jauh dari yang kurasa
Saat awal kau katakan cinta kepadaku

Bosan aku denganmu
Ini itu kau tak tahu
Selalu kau buat ku
Tuk menuruti dirimu
Ayo kita akhiri
Diriku tak tahan lagi
Sudahlah lupakan
Ku ingin pergi darimu

Ternyata kau berbeda jauh dari yang kurasa
Saat awal kau katakan cinta kepadaku
Habis sudah sabarku
Pusing aku dibuatmu
Sudahlah sudah
Ku ingin pergi darimu

Bosan aku denganmu
Ini itu kau tak tahu
Selalu kau buat ku
Tuk menuruti dirimu
Ayo kita akhiri
Diriku tak tahan lagi
Sudahlah lupakan
Ku ingin pergi darimu

Bosan aku denganmu
Ini itu kau tak tahu
Selalu kau buat ku
Tuk menuruti dirimu
Ayo kita akhiri
Diriku tak tahan lagi
Sudahlah lupakan
Ku ingin pergi darimu

Ku ingin pergi dari
Ku ingin pergi dari
Ku ingin pergi dari
Ku ingin pergi darimu


Thursday, October 1, 2009

3 Anak Kucing-Book 2-Chapter 2



Aku agak kaget menemukan ada tas lain di bangkunya. Tas pink itu rasanya pernah aku liat. Dimana ya?
” Pagi . . .” sapa Shyra. Aku tambah kaget mendengar sapaan dari Shyra yang lama banget nyuekin dia
” Pagi, Ra” lalu aku dan Shyra duduk di kursi masing-masing. Tapi masih dalam diam
Aku sadar Shyra beberapa kali curi-curi pandang. Apa yang mau diomongin?
” Fries, maaf . . .” aku menoleh dan menemukan Shyra dengan wajah yang sungguh-sungguh menyesal
“ Maaf buat apa?”
“ Buat soal Tama . . .” aku tersenyum ” Ogy udah cerita dan . . . maaf banget”
” Udah aku maafin koq”
” Serius?” Shyra gak percaya ” Tapikan aku . . .”
” Udah, gak usah dibahas lagi” Shyra lega mendengar itu ”Ngomong-ngomong rasanya aku pernah liat tas ini. Dimana ya?” tanyaku sambil meraba permukaan tas Shyra
” Kan kamu yang kasih” jawab Shyra ” Waktu ultah aku. Ingetkan?”aku mengangguk-ngangguk pelan
” Koq masih bagus? kan udah lama”
” Namanya juga dari sahabat terbaik” kata-kata Shyra itu bikin aku terharu. Duh, koq jadi cengeng gini?
” Hai, pagi” Ogy dateng dan merusak suasana haru antara aku dan Shyra
” Pagi” balasku asal-asalan
” Pagi, Ogy . . .” aku heran. Koq senyum Shyra terlihat beda? Ogy ikut tersenyum dan pergi ke bangkunya
” Ra, ada apa kamu sama Ogy?” Shyra jadi salting
” Hah? Gak ada apa-apa koq” aku makin curiga
“ Ayo, bilang aja”
Wajah Shyra agak tersipu
“ Minggu kemaren, Ogy nembak aku . . .”
“ Apa?! Berarti kalian . . . udah jadian dong?” Shyra mengangguk pelan. Gila, aku gak tau temen aku jadian! ” Kenapa gak bilang?”
” Kitakan lagi marahan. Aku takut apalagi kamu jutek banget”
” Shyra . . .” aku bener-bener kayak orang bodoh. Shyra udah seminggu jadian sama Ogy dan aku GAK tau!
” Sorry deh, kalo kamu gimana?” tanya Shyra ” Sama Udith atau Tama?”
Mendengar itu aku malah terdiam
” Fries . . .”
” Ayah aku bakal nikah sama Bunda Udith dan Tama”
”Hah? Jadi kalian bakal jadi saudara dong” aku mengangguk pelan
” Udith udah cerita sama aku” kata Ogy yang sepertinya juga ngedenger perkataan aku tadi ” Dia juga rada gimana gitu . . ”
” Berarti dia rada rasa juga dong sama kamu” aku malah menghela nafas
” Tapikan ada Tama”
” Apa hubungannya?” duh Shyra, jangan pura-pura lemot deh
” Merekakan adik kakak! Lagian kita bakal jadi saudara” aku bener-bener sedih setelah mengucapkan kata ’saudara’. Saudara, kita bertiga bakal jadi saudara, saudara tiri.
***
” Selamat siang” tante Dantie alias calon Bundaku terlihat senang melihatku dan Ayah sudah ada didepan pintu rumahnya
” Selamat siang, sayang” Ayah langsung mencium kening ’calon’ Bundaku itu. Romantis banget.
” Silakan masuk” aku dan Ayah langsung masuk ke rumah Bunda yang sejuk banget. Udara Bandung tempo dulu kerasa banget disini. Ketika melewati ruangan keluarga, aku melihat foto keluarga. Tapi disana gak ada Udith.
” Koq gak ada Udith?” tanyaku. Bunda tersenyum
” Udith udah ceritakan?” aku mengangguk ” Itu hanya kesalahan kecil koq” aku gangguk-ngangguk. Bunda pasti sedih nginget kejadian itu. Orang tua mana yang gak sedih ngeliat anak-anaknya berantem?
” Desainernya udah dateng?” tanya Ayah. Tujuan utama ke rumah Bunda emang buat ngukur pakaian buat hari H nanti
” Belum. Nanti jam 2” jawab Bunda ” Tunggu aja sebentar. Kita bisa makan dulu sambil nunggu”
” Aku ingin coba masakan calon istriku” kata Ayah mesra
” Duh, Ayah manja banget” kataku. Ayah dan Bunda malah tertawa. Melihat itu aku seneng banget. Aku ngerasa punya keluarga lengkap
” Oke, aku yang masak. Friesca bantuin Bunda ya” aku mengangguk ” Biar Bunda tau kamu sukanya makan apa”
” Friesca suka segalanya koq. Diakan pemakan segala macam. Kulkas dirumah selalu kosong kalo Friesca laper” aku cemberut
” Ayah juga. Kerjaannya ngopi mulu” Bunda tersenyum mendengar itu
” Kita masak oseng brokoli saja ya. Kebetulan banyak brokoli dikulkas”
” Oseng brokoli?” aku kaget. Itukan makanan kesukaanku yang sering dimasak almarhum Bunda
” Suka?” aku mengangguk ” Ke dapur yuk”
Sesampainya didapur yang lengkap itu, aku melihat peralatan dan bahan yang biasa aku pakai masak bareng almarhum Bunda. Serasa dulu
” Friesca yang nyuci dan motongin brokolinya ya. Biar Bunda yang siapin bawangnya. Kamu alergi sama bawangkan?” aku langsung mengangguk antara heran dan takjub
” Koq Bunda tau?”
” Ayah kamu yang cerita” jawab Bunda ” Friesca gak suka bawang, gak suka pelajaran matematika dan masih suka nulis diary”
Aku seneng Ayah cerita ke Bunda. Aku berharap Bunda dan aku bisa beradaptasi jadi keluarga. Tapi aku gak berharap Ayah cerita tentang cinta segitiga aku, Tama dan Udith.
” Ayah cerita apa aja selain itu?” Bunda berpikir sambil mencuci beberapa siung bawang
” Ayah juga cerita tentang cerita cinta kamu” bukan ini yang aku harepin! ” Katanya pernah bingung nolak cowok yang cakep banget tapi masih 2 taun dibawah kamu, iyakan?” aku mengangguk. Itu emang kejadian. Tapi itu dulu waktu aku SMP ditembak sama anak SD. Cakep banget! Tapi dia masih kelas 5 SD.
” Cowok itu jadi tambah cakep loh” kataku ” Sayang, dia berondong”
” Trus gimana dengan cowok lebih tua itu?”
” Dia jadi tambah jelek” aku dan Bunda tertawa bersamaan. Ayah yang diam-diam mengintip mereka tersenyum senang.
” Sekarang kita nyalain kompornya” Bunda mengambil sebuah wajan dan menyimpannya di atas kompor gas lalu menyalakannya. ” Tolong ambil minyaknya, Fries” aku mengambil minyak yang ada disebelah garam dan merica
” Sama aku ya” Bunda mengangguk
Melihat anggukan itu, aku langsung menuang minyak itu. Tak disangka minyaknya malah berdesis. Ternyata wajan itu basah. Minyak panas itu langsung muncrat ke mana-mana. Termasuk ke wajahku yang tepat didepannya. Aku langsung limbung dan mundur.
BRAK! Aku gak tau apa yang aku tabrak. Yang jelas keseimbanganku hilang dan aku terjatuh. Dengan muka penuh minyak dan kepala pusing , aku ngerasa ada sesuatu ngegores daguku
” Friesca . . .” Ayah yang masih mengintip kaget dan menghampiri aku dan Bunda yang panik
” Bawa ke ruang keluarga. Disana ada kotak P3K” terdengar suara Bunda yang khawatir. aku yang gak tau apa-apa, meraba daguku yang perih dan ada cairan kental disana
” Jangan dipegang, sayang” kata Ayah ” Nanti infeksi”
” Cepet bawa” suara Bunda terdengar lagi. Suasana dapur jadi ramai.
” Pisaunya pindahin” terdengar satu suara lagi
Tiba-tiba aku merasa tubuhku diangkat. Seseorang mengendongku dan membawaku keluar dapur. Aku belum berani membuka mata dengan rasa perih diwajahku. Seseorang itu menurunkanku dan aku bisa merasakan empuknya sofa
” Sakit . . .” aku mau meraba daguku lagi, tapi ada tangan lain mencegahnya
” Nanti infeksi. Aku bersihin dulu ya”
” Udith . . .”
” Iya, ini Udith. Diem dulu, aku mau bersihin luka kamu” tetesan minyak panas itu hilang dengan kapas Udith
” Aku kenapa sih?” tanyaku ” Koq perih banget?”
” Dagu kamu kena pisau” jawab Udith sambil mengambil botol alkohol ” Kamu nabrak rak dan ada pisau disitu” ada rasa dingin campur perih didaguku. Aku meringis pelan. ” Tahan dulu”
Aku paling gak suka disuruh nunggu. Perlahan aku membuka mataku dan menemukan wajah Udith deket banget dengan wajahku. Kalo di kamera, zoomnya sampe 4 kali. Aku jadi deg-degan gak karuan. Udith baru sadar saat dia selesai membersihkan lukaku.
” Kenapa?” tanyanya
” Nggak . . .” jawabku. Aku belom pernah sedeket ini sama Udith! Jadi dia yang gendong aku tadi.
” Kamu mau pake obat merah apa plaster?” tanya Udith. Dia sibuk merogoh kotak P3k
” Plester aja” jawabku pelan. Udith lalu mengangkat daguku dan memberinya plester yang biasa dijual di warung-warung. ” Nah, udah selesai”
” Makasih” Udith masih gak bergerak walaupun dia bilang semuanya udah selesai. Tangannya masih mengangkat daguku dan matanya menatap mataku dalam
” Udith?” hal yang dari tadi aku pikirin akhirnya terjadi. Wajah Udith yang udah deket banget jadi tambah deket, bahkan nempel dengan wajahku, ketika dia mencium bibirku . . .