MY LATEST VIDEO ON YOUTUBE



Read the story of this booktuber here ;D

Monday, November 16, 2009

3 Anak Kucing - Book 2 - Chapter 4



” Jangan lupa bawa oleh-oleh ya” pintaku ketika Ayah memelukku erat saat dibandara
” Kamu mau dibawain apa?” tanya Ayah
” Semua yang ada di pasar Sukawati”tegasku ” Friesca juga ingin tas anyaman juga. Jangan lupa” mendengar itu Udith malah ketawa
” Fries, Ayah sama Bunda mau bulan madu di Lombok bukan di Bali” kata Udith. Aku malu seketika
” Oh, iya? Friesca kira . . . ” Udith ketawa terus. Ayah, Bunda dan Namira tersenyum. Sedangkan Tama. Diam seribu bahasa
Bener-bener malu! Udah dibangunin pagi-pagi buta. Disusruh mandi air dingin dan langsung berangkat kebandara dengan rambut acak-acakan, sekarang malah diketawain sama Udith. Ayah, Bunda, kalo mau bulan madu bilang-bilang dulu dong! Malu nih sama Udith.
“ Trus oleh-oleh darisana apa?” tanyaku dengan nada pelan. Aku takut diketawain lagi sama Udith
“ Ayah juga gak tau” jawab Ayah “ Nanti kita nanya aja ke pendududknya”
“ Ngapain liburan, tapi gak tau oleh-olehnya?” seru Namira. Bunda langsung menjawabnya dengan lemah lembut
“ Mira, kebetulan Ayah ada dinas disana” jawab Bunda sambil tersenyum “ Ya, kita pikir, kenapa gak sekalian bulan madu”
” Kalo tempat wisatanya tau gak?” tanyaku. Sebenernya aku gak tau Lombok itu ada dimana. Serius!
” Ada pantai Sengigi, trus ada Kuta juga. Tapi jelas beda dong sama Kutanya Bali” jawab Ayah
” Pantainya natural banget” tambah Bunda ” Pasirnya putih dan lautnya berwarna turquoise”
” Turkuise?” aku bingung ” Apaan tuh?” Udith langsung ketawa lagi
” Turquoise” ralat Udith
” Terserah deh!” aku sebel diketawain pagi-pagi gini. Langsung cemberut deh.
” Dith, jangan ketawain adik kamu dong” kata Bunda ” Kasian” Udith tersenyum dan langsung merangkulku. Aku kaget, terutama Tama
” Maafin ya, adikku sayang” ada sedikit penekanan dikata ’sayang’
” Iya, kakakku sayang” aku juga menekan kata ’sayang’. Semuanya tersenyum kecuali Tama. Mereka seneng melihat aku dan Udith baik-baik aja. Gak ada curiga tuh dengan rangkulan Udith. Ya, mungkin cuma Tama yang merhatiin itu.
” Pesawat dengan tujuan Lombok . . .” semua terdiam mendengar pengumuman itu
” Wah, harus pisah sekarang deh” ucap Namira pelan
” Friesca pasti kangen” kataku. Baru aja kemaren aku bisa ngumpul dengan keluarga baru yang lengkap. Sekarang aku harus pisah lagi. Sebulan lagi.
” Hati-hati ya” Ayah mengacak rambutku ” Mira, jagain mereka ya”
” Kak Namira tinggal sama kita juga?” tanyaku kaget
” Kenapa gak suka?” gak tau kenapa, pandangan Namira tadi bener-bener tajam banget
” Gak. Cuma kaget aja . . .”
” Fries, kaliankan gak mungkin Cuma bertiga dirumah” jelas Bunda ” Ya, Mirra juga nginep aja. Diakan saudara kamu sekarang” aku mengangguk
” Nah, sekarang ayo kita pergi” Ayah mendorong troli koper-koper yang bejibun. Mendengar itu aku jadi ingin nangis
” Dah . . .” aku mulai terisak. Melihat itu, Udith semakin mempererat rangkulannya. Tama makin kesal melihat itu. Tapi dia terlalu sibuk dengan Namira yang juga mulai nangis. Ayah dan Bunda melambai dan pergi
” Jangan nangis dong, sayang” bisik Udith sekarang Uidht gak pake tambahan ’adik’ ” Mereka cuma bulan madu”
” Ayo, pulang” ajak Tama yang masih kesal dengan rangkulan Udith ” Aku mulai UAS hari ini”
” Aku juga harus kerja” kata Namira sambil mengusap airmatanya ” Tam, nebeng dong. Kalian jaga rumah, ya” aku kaget mendengar itu
” Kami? Berdua?”
Namira mengangguk
” Iya, kamu dan Udith” senyum Udith mengembang begitu aku menatapnya. Berdua dengan Udith?!
***
Aku, Udith dan rumah. Mungkin itu judul yang dipake kalo kejadian ini dijadiin film atau buku. Setelah Ayah dan Bunda pergi bulan madu ngedadak, sekarang cuma berdua dirumah yang segede supermarket itu. Tapi ini bisa dipake buat ngobrol tentang ciuman Udith waktu itu.
” Mau nonton?” tawar Udith ketika mereka berdiam diri selama sejam pulang dari bandara.
” DVD?”
” TV. Kamu pasti gak suka koleksi DVD aku” jawab Udith. Dia meraih remote dan menyalakan TV diruang keluarga ” Bukan kamu banget”
” Emang tentang apa?” aku sama sekali gak merhatiin sinetron yang tayang
” Kebanyakannya action” jawab Udith. Sekarang dia memperhatikan sebuah video clip band baru ” Thiller, komedi dan drama juga ada. Tapi itu film lama”
” Judulnya apa aja?” tanyaku lagi. Action emang bukan aku banget yang suka film drama dan komedi romantis
Ocean’s Eleven, The Bourne Supremacy , Star Wars“ aku bengong ngedenger judul-judul itu “ Chasing Liberty, Pirates of the Caribbean, kamu pasti gak suka”
” Kamu gak punya spiderman atau batman? Superhero gitu?” Udith mengeleng
” Aku gak terlalu suka film superhero”
Hollywood Land?”
Udith kaget ngedenger judul film itu
“ Kamu tau film itu?” aku mengangguk
“ Kan ada hubungannya sama superman” kataku
” Nonton itu aja, yuk” ajak Udith. Dia mematikan TV yang membosankan itu ” Aku baru beli DVDnya” Udith langsung berlari kekamarnya diatas. Aku senyum-senyum ngeliat itu. Ternyata aku banyak persamaan sama Udith
Udith kembali dengan DVD bergambar Adrien Brody, Diane Lane dan Ben Affleck itu.
” Aku seneng kamu tau film ini” Udith memasukkannya ke DVD player ” Semua cewek yang aku kenal gak tau sama sekali film ini”
” Aku tau”
” Iya, cuma kamu” jawaban itu berhiasi senyum Udith yang cute banget. oh, untung banget mantan aku yang dulu maksa aku nonton ini. Ternyata ada gunanya sekarang.
Filmnya mulai dan sebenernya aku gak terlalu merhatiin jalan ceritanya. Aku udah hafal banget sama jalan ceritanya. Secara aku udah nonton berkali-kali. Apalagi setelah Shyra beli DVDnya setelah aku paksa-paksa.
” Koq bengong?” tanya Udith. Dia juga gak merhatiin filmnya. Aku tersenyum
” Aku udah sering nonton film ini” jawabku ” Shyra punya DVDnya”
” Sama dong” kata Udith ” Aku juga udah nonton. Tapi DVDnya bajakan”
” Huh, gak modal” ejekku
” Jangan salahin aku dong” bela Udith ” Kita juga ngebajak. Liat sinetron-sinetron baru yang tiba-tiba banyak yang tayang. Rata-rata bajakan tuh”
” Sinetron beda sama film bioskop” kataku
Film Hollywood Land gak diperhatiin sedikitpun. Ini saatnya aku ngalihin pembicaraan.
” Dith . . .” Udith menoleh ” Tama gimana?”
” Gimana apanya?” Udith jadi bingung
” Diakan keliatan marah ngeliat kamu ngerangkul aku tadi” kataku ” Kamu gak . . .”
” Ngapain mikirin Tama?” tanya Udith.
Udith gak manggil Kak Tama!
” Diakan lagi UAS”
” Ya, biasanyakan kamu kayak yang ngelindungin dia” kataku selanjutnya ” Kamu berusaha biar Tama sama atau mirip-mirip sama aku. Ya, bisa dibilang kamu ngelindungin Tama”
” Aku cape gitu terus” aku terdiam mendengar itu ” Aku gitu buat jaga perasaan dia sama biar dia mau nganggep aku adeknya. Tapi kita malah berantem, pake fisik dan akhirnya Bunda nangis. Selalu aja. Apalagi kalo kamu lebih milih aku daripada dia”
” Sebenernya, aku lebih sayang kamu dari Tama” Udith terlihat kaget ” Tama kayak kakakku. Gak kayak kamu yang nyambung karena kita emang seusia”
” Beneran?”
” Iya dong” masa gak percaya sih?” Tadinya aku mau nerima kamu pas kita pulang nonton teater. Tapi malah ketemu Tama dan tau kalo kalian adik kakak. Akukan jadi gak enak”
” Kamu mau nerima aku?” aku mengangguk ” Kenapa gak bilang?”
” Aku tuh mau bilang tauk! Kamunya aja yang nyebelin. Pake ngelindungin Tama segala. Aku ngerasa kamu gak serius waktu nembak aku. Di kebun binatang lagi” Udith ketawa
” Emang Tama nembak kamu sama cara romantis ya?”
“ Nggak tuh. Malah bikin Shyra nangis dulu baru deh nembak aku. Nembak dadakan gitu”
“ Shyra nangis?”
“ Shyra pernah suka sama Tama. Tapi ditolak”
” Pantesan Tama selalu males ngangkat telepon rumah”
” Udah telat. Dia udah jadian sama Ogy”
” Tau koq. Ogy cerita” gak tau kenapa, aku dan Udith jadi terdiam sesaat
” Andai aja aku juga kayak gitu” gumanku
” Kayak gimana?” aku menatap Udith
” Jadian sama kamu. Seharusnya aku sering belanja ke supermarket itu biar ketemu sama kamu dulu. Trus aku gak ngasih harepan sama Tama. Kalo gitu kita bisa jadian dari dulu” aku ngomong dengan penuh rasa penyesalan yang selalu ada diakhir
” Kenapa gak sekarang aja?”
” Sekarang? Kitakan udah jadi saudara . . .”
” Saudara tiri” tegas Udith ” Mau gak?”
Jadian sama saudara sendiri? Walaupun saudara tiri, aku gak pernah mikirin itu. Tapi, kalo saudara tiri itu Udith . . .

No comments:

Post a Comment

Thanks for leave your comment :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...