MY LATEST VIDEO ON YOUTUBE



Read the story of this newbie booktuber here ;D

Tuesday, January 27, 2015

I Don’t Know How She Does It – Sibuk Berat

Allison Pearson
468 halaman
PT. Gramedia Pustaka Utama, Februari 2012 (cetakan kedua)
Rp. 20.000 (Obral Buku Gramedia Merdeka)

"Mummy akan mengantarku tidur nanti malam?"
"Tidak, Sayang."

Kate Reddy: manager investasi, ibu dua anak. Hidupnya diperhitungkan hingga ke menitnya, dan kepalanya berisi jutaan hal yang harus diingat. Presentasi, konser Natal di sekolah, telekonferensi dengan klien, membatalkan janji spa, mengecek indeks Dow Jones. Tambahkan pengasuh anak tukang bolos, suami yang kesepian, bos yang seksis, dan kekasih dunia maya … Dengan begitu banyak bola yang melayang di udara, cepat atau lambat salah satunya pasti jatuh juga.

Allison Pearson menyajikan dramatisasi dilema ibu bekerja pada awal abad ke-21, meski tidak nyinyir, tidak menghakimi, dan tidak memandang segalanya dengan hitam-putih maupun benar-salah.

I Don’t Know How She Does It – Sibuk Berat menjadi objek skripsi salah satu seniorku di kampus. Saat itu aku tidak tahu kalau novel yang termasuk ‘baru’ ini bisa dijadikan bahan penelitian. Teori yang dipakai juga menarik dan menginspirasi skripsiku. Kemudian aku mengetahui kalau ceritanya diangkat menjadi film layar lebar. Kutonton film itu dan lumayan menyukainya. Kini aku membaca versi novelnya. Now, let’s review it ;D

"Aku sudah mengatakan satu-satunya cara untuk dapat diterima di EMF adalah bersikap seperti para lelaki; tapi begitu kau bersikap seperti laki-laki mereka mengatakan kau sulit dan mudah tersinggung, lalu begitu kau bersikap seperti wanita, mereka mengatakan kau sulit dan terlalu emosional. Sulit adalah istilah mereka untuk segala hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka." – halaman 50

Kate Reddy adalah ibu dari dua anak, Emily dan Ben, dan bekerja sebagai manajer investasi yang cemerlang. Kesibukannya seringkali membuat Kate harus terbang ke berbagai negara di belahan dunia. Kate harus rela meninggalkan kedua anaknya kepada pengasuh anak dan melewatkan segala perubahan kecil yang terjadi di rumah. Teman-teman wanita seusianya cenderung memilih berhenti bekerja atau tidak mempunyai anak sama sekali. Kate tetap menjalani keduanya di bawah komentar-komentar dari kelompok ibu rumah tangga, rekan kerja yang hampir semua laki-laki dan ibu mertuanya. Dia juga berusaha menjaga hubungan romantisnya dengan Richard, suaminya. Tetapi salah satu kliennya dari New York, Jack Abelhammer, menarik perhatiannya. Mereka rutin berkirim email, yang isinya tidak selalu tentang pekerjaan.


Monday, January 26, 2015

Ngeri Ngeri Sedap

Bene Rajagukguk
206 Halaman
Bukune, Oktober 2014
Rp. 45.000,-

Bagi keluargaku yang gengsinya selangit, menerima pemberian dari orang lain, pantang hukumnya. Kayak waktu itu Tulang main ke rumah. Sebelum pulang, Tulang mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.

Aku mengarahkan tangan menuju lembaran berharga itu. Beberapa senti sebelum uang berpindah tangan, tiba-tiba Mamak nongol, “Eh! Apa Mamak bilang? Jangan terima-terima uang!” Tanganku langsung mundur.

Tulang memasukkan kembali uang itu, kemudian mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. Belum sempat kuambil, Mamak langsung ngomong, “Apa Mamak bilang? Jangan terima-terima uang!” Mamak melotot sambil melambai-lambaikan tangan isyarat larangan.

Uang dua puluh ribuan kembali masuk dompet. Kali ini uang merah—seratus ribuan—menggantikan posisinya. Aku yang masih bingung harus ngapain, dikejutkan oleh suara Mamak, “Nak, bilang apa sama Tulang? Bilang ‘terima kasih’!”

Rupanya, langit pun ada harganya.

***

Kenalkan, Kawan, namaku Bene Dionysius Rajagukguk.
Dari nama aja, udah keliatan kan aku orang apa?
Tampangku yang amuba—asli muka Batak—pun,
nggak bisa bohong.
Iya, aku memang seratus persen berdarah Batak.

Sebagai Batak tulen, keras dan teguh pada prinsip jadi sifatku yang menonjol. Makanya, aku nggak pernah mau bayar utang dan menolak keras waktu ditagih.
Prinsipku; sesuatu yang udah dikasih, jangan harap balik lagi.

Dalam buku ini, aku akan cerita macam-macam persoalanku sebagai pemuda Batak yang mencoba menaklukkan dunia.
Mungkin keliatannya ngeri, tapi sedap kok waktu dijalani.
Kayak banyak orang Batak bilang, “Nggak usah terlalu dipikirin.
Nikmati aja! Hidup memang ngeri-ngeri sedap, Kawan!”

Aku jarang nonton dan ngikutin acara stand up comedy. Mungkin lebih tepatnya, aku nggak penah minat untuk nonton TV dengan sengaja kecuali untuk acara berita dan sitcom-nya Chealsea Islan. Lalu aku juga belum pernah baca buku  komedi selain karya Raditya Dika. Jadi aku sempet ragu untuk membaca Ngeri Ngeri Sedap ini. Tapi aku yakin isinya paling nggak bisa bikin ketawa. Lumayan lah buat menghibur kepala aku yang lagi ngebul. Let’s review it now :D

"Budaya Batak yang kumiliki ternyata membaca beberapa kesulitan waktu aku pindah ke Jogya. Tapi, kesulitan kayak ketidakcocokan makanan dan minuman, perbedaan gaya bahasa, dan kendala-kendala lainnya, justru nggak seberapa dibanding apa yang kudapat. Di Jogya, banyak hal-hal positif yang kupelajari." – halaman 40

Bene Dionysius Rajagukguk, yang lebih dikenal dengan nama Bene Dion, berbagi cerita dan pengalaman pribadinya tentang kedua orangtua yang termasuk pelit dan galak, merantau ke Jogya untuk kuliah dan budaya suku Batak dalam balutan komedi. Ada 11 cerita yaitu Selayang Pandang, Mamak Lawak-Lawak, Pindah Ke Jogya, Awas Bapak Galak, Hepeng Do Namangatur Negara On, Anakhongki Do Hamoraon Di Au, Obat Paling Mujarab, Mengenal Batak, Air Susu Dibalas Dengan Air Susu, Menikmati Jogya dan Ngeri Ngeri Sedap.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...