MY LATEST VIDEO ON YOUTUBE



Read the story of this booktuber here ;D

Tuesday, June 11, 2013

One Last Chance

Stephanie Zen
296 Halaman
PT. Gramedia Pustaka Utama, Juli 2012 (cetakan kedua)
Rp.45.000-

Adrienne Hanjaya, novelis muda berbakat yang buku-bukunya selalu bestseller, mempunyai satu prinsip: Tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalti.

Setiap kisah cintanya yang berantakan selalu dituangkan Adrienne dalam naskah. Semuanya. Dengan nama tokoh pria yang sering kali menggunakan nama sebenarnya, dengan ending buruk bagi si tokoh pria dan kebahagiaan bagi si tokoh wanita. Adrienne berpendapat, para pria itu layak mendapatkannya karena telah menyia-nyiakan cintanya.

Sampai akhirnya, Adrienne bertemu Danny Husein, calon dokter muda yang bahkan sempat dikiranya too good to be true. Kali ini Adrienne mengira akhirnya ia bisa menulis novel roman yang berakhir dengan tokoh pria dan wanita bahagia bersama.

Tapi perkiraan Adrienne salah. Salah satu cowok yang pernah dijadikan tokoh novelnya memberitahu Danny tentang prinsip menulis Adrienne. Bagaimana reaksi Danny mendengar itu? Apakah ia memilih meninggalkan Adrienne? Dan berhasilkah Adrienne membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Danny?

Sinopsis One Last Chance diatas sangat menarik dan bikin penasaran. Karena itu lah aku masukin novel ini ke dalam daftar Books of the Month bulan Mei 2012. Beberapa bulan kemudian, aku membeli novel ini dalam keadaan stress karena magang (thank God, the discount really heal me :p). Tapi entah kenapa aku selalu menunda-nunda membacanya. Aku lebih memilih untuk membaca novel lain yang lebih tipis atau malah yang lebih tebel lah (weird, eh?). Akhirnya aku melirik kembali novel ini dan kasihan juga udah dianggurin beberapa minggu. Tak disangka aku bisa menyelesaikannya dalam lima jam! :D

Sinopsis One Last Chance sudah sangat jelas menceritakan isi ceritanya, jadi nggak usah ditulis ulang dalam kata-kata aku ya hehehe. Premisnya menarik dan mungkin bisa menjawab pertanyaan dari pembaca tentang bagaimana penulis mendapatkan inspirasi sampe-sampe katakternya kerasa nyata banget. Tapi sebenrnya yang bikin aku penasaran adalah gimana cerita itu berakhir, bagaimana penulis membuat sebuah solusi untuk konflik yang tampaknya sangat rumit itu. It turned out, she did very well! Ceritanya mengalir, apa adanya, tidak menggurui dan gak ada hal-hal aneh atau lebay yang bikin alis aku terangkat. Bahkan bagian romantis yang melibatkan the love birds terasa pas dan lucu, mengingatkan betapa bego dan lugunya kita kalo sedang jatuh cinta hehehehe.

The best thing of the worst point is . . you know that it can’t be worse” – halaman  186

Selain suka dengan jalan ceritanya dan juga cara penceritaannya, aku mendapatkan moral message dari karakter Adrienna. Perkembangan karakternya terasa banget. Dari Adri yang begitu sakit hati, lalu melampiaskannya dalam bentuk novel, mendapatkan kesuksesan yang tak disangka-sangka, pertemuan dengan Danny, ancaman dari Gerry dan segala kejatuhan yang dialaminya. Dia tetap bangkit, menghadapinya, lalu belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi orang lebih baik. Narrative events itu kerasa jleb banget buat aku karena aku sedang marahan dengan seseorang dan masih gengsi untuk bicara duluan. Maybe I should write it down? ;)

It’s always the darkest time, right before . . you open your eyes” – halaman 207

Itulah sisi plus yang aku dapat. Untuk sisi minusnya, hmmm . . mungkin tokoh Keyla itu butuh cerita sendiri deh, spin-off gitu. Dia begitu wise beyond her friend dan suka banget dengan ekspresi ‘gila’nya. Tapi asal usulnya nggak jelas dan memang perlu dijelaskan berlebihan. Toh dia hanya karakter pembantu. Tapi sayang kalo gak dikembangkan. It is just a thought ;)

At last, walaupun ngerasa sedikit bookception (buku dalam buku, hampir sama dengan Inception, mimpi dalam mimpi), tapi One Last Chance sangat menarik dan diakhiri begitu baik. Novel ini juga secara tidak langsung mengajarkan kita untuk merendam amarah, mengobati sakit hati dan tidak hanya mengucapkan kata maaf tapi benar-benar memaafkan. Recommended!

2 comments:

  1. waaah Stephanie Zen! pernah baca bukunya juga yg berjudul Perhaps You. tapi setelah baca review ini, sepertinya ini juga nggak kalah bagus. apalagi sinopsisnya rada mirip sama pengalaman pribadi hehe. lain waktu tulis book review dari penulis-penulis lain dengan karyanya yang luar biasa ya. biar ada bayangan sebelum beli buku :D

    ReplyDelete
  2. Halooo, yang penasaran sama buku ini bisa beli buku punyaku, kujual dengan harga murah. Cek https://twitter.com/23rdProject/status/477284979735412736

    ReplyDelete

Thanks for leave your comment :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...