Showing posts with label Penerbit Buku Kompas. Show all posts
Showing posts with label Penerbit Buku Kompas. Show all posts

Monday, January 11, 2016

[Blog Tour] Andy Noya: Kisah Hidupku – Review


Halooo, Too Early menjadi salah satu host blog tour untuk buku terbitan Kompas yang dicetak ulang tiga kali dalam satu bulan. Yap, buku itu adalah biografi Andy Noya: Kisah Hidupku yang mengangkat kehidupan Andy Noya yang terkenal lewat Kick Andy. Silakan baca review-nya dulu di bawah, lalu klik di sini untuk mengikuti giveaway-nya :D

Robert Adhi KSP
418 Halaman
Penerbit Buku Kompas, Agustus 2015 (Cetakan Kedua)
Rp. 89.000,-

Empat tahun lamanya Andy F. Noya dibujuk untuk mengungkapkan kisah kehidupannya di balik layar televisi. Jika selama ini dia selalu mengangkat kisah hidup orang lain, yang menginspirasi jutaan penonton Kick Andy, lalu mengapa dia sendiri menghindar mengungkapkan kehidupan pribadinya?

Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya pria berdarah Ambon-Belanda-Jawa-Portugis ini bersedia terbuka menceritakan masa kecilnya yang kelam, masa-masa sulit di Surabaya, perpisahan ayah-ibuya, masa remaja di Papua, kuliah yang tidak tuntas, kisah percintaan yang jenaka, dan perjuangannya menapak karier sebagai jurnalis.

Membaca kisah perjalanan hidup pembawa acara Kick Andy ini, kita akan banyak menemukan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Banyak cerita di buku ini yang belum pernah terungkap ke publik. Dengan gaya penuturan "aku", Anda merasa bukan sedang membaca sebuah biografi, melainkan kisah hidup yang membuat Anda yakin setiap orang, termasuk Anda, berhak atas kehidupan yang lebih baik.

Jumlah halaman buku Andy Noya: Kisah Hidupku sebenarnya agak mengintimidasiku. Apalagi ini adalah sebuah biografi, genre buku yang jarang sekali kubaca. Tapi mengingat kepopuleran tokoh yang diangkat, aku jadi penasaran juga dengan kisah hidupnya dari kecil sampai mencapai kesuksesannya. Maka dari itu aku menyanggupi tawaran untuk menjadi host blog tour-nya. Now, let’s review it! :D

"Hidup bersama ayah merupakan teka-teki besar bagiku. Apa yang bakal terjadi dengan masa depanku sulit dibayangkan. Akankah aku bahagia hidup bersama lelaki yang masih terasa asing bagiku ini?" – halaman 131

Andy Noya: Kisah Hidupku memaparkan kehidupan Andy Flores Noya mulai dari kecil yang serba kekurangan sampai menjadi salah satu orang penting di balik Metro TV dan mempopulerkan program Kick Andy. Pengantar dari Jakob Oetama dan Surya Paloh membuka sebelas bagian hidup Andy. Bagian 1 sampai 4, Masa Kecil di Surabaya Dua, Hidup Serba Kekurangan, Kehidupan Di Jalanan, dan Ludruk dan Kebun Binatang, menceritakan kehidupan masa kecil Andy dan keluarganya yang sering pindah dari kontrakan satu ke yang lain. Darah Belanda yang mengalir dalam dirinya agak mempersulitnnya karena semangat kemerdekaan sedang tinggi-tingginya. Orangtuanya juga berpisah sehingga Andy tidak mendapat perhatian yang cukup dan membuatnya melakukan berbagai kenakalan.

Bagian 5 dan 6, Kehidupan Baru di Malang dan Tumbuh Dewasa di Jayapura, kehidupan Andy masa remaja mulai terarah dan lebih berprestasi. Di sini dia juga mulai menaruh minat pada dunia jurnalistrik. Bagian 7 sampai 8, Kehidupanku di Ibu Kota dan Terjun ke Dunia Kewartawanan, Andy memulai karirnya di Jakarta yang keras dan penuh persaingan. Bagian 9 dan 10, Memimpin ‘Media Indonesia’ dan Seputar Indonesia, Pam Swakarsa, sampai Cardiff, Andy memperlihatkan ketegasannya mempimpin berbagai koran umum, majalah gaya hidup, sampai televisi berita. Bagian 11, Amplop, Xin Wen, dan Kick Andy Foundation, program Kick Andy mulai mengudara dan melahirkan tantangan baru bagi Andy. Kisah ini juga disertai foto-foto hitam putih yang mendukung.

Monday, December 7, 2015

[Blog Tour] Suti – Review

Halooo, blog Too Early mendapat kesempatan menjadi host blog tour lagi. Kali ini buku yang dibahas adalah Suti karya Sapardi Djoko Damono. Aku menulis review untuk ceritanya, menanyakan beberapa pertanyaan ke penulis, dan tentunya ada giveaway! :D

Sapardi Djoko Damono
200 Halaman
Penerbit Buku Kompas, November 2015

Suti adalah seorang perempuan yang dengan enteng tetapi tegar menyaksikan dan menghayati proses perubahan masyarakat pramodern ke modern yang dijalaninya ketika bergerak dari sebuah kampung pinggir kota ke tengah-tengah kota besar.

Ia bergaul dengan gerombolan pemuda berandalan maupun keluarga priayi tanpa merasa kikuk, dan melaksanakan apa pun yang bisa mendewasakan dan mencerdaskan dirinya.

Suti terlibat dalam masalah yang sangat rumit dalam keluarga Den Sastro, yang sulit dibayangkan ujung maupun pangkalnya.

Meskipun sudah memiliki dua karya Sapardi Djoko Damono (SDD) yaitu novel Hujan Bulan Juni dan kumpulan sajak Melipat Jarak, Suti adalah karya yang pertama kubaca. Sempet kaget karena seorang sastrawan sekelas SDD mengadakan blog tour, sekaligus bangga karena aku masuk dalam salah satu blogger yang diajak. Thank you and now let’s review it! :D

"Perempuan muda itu yatim, dan itu mungkin sebabnya orang desa cenderung menerima sebagai hal yang wajar-sewajar-wajarnya kalau ada berita aneh tentangnya, meskipun mereka tentu juga tahu bahwa orang yatim tidak harus aneh tingkah lakunya." – halaman 5

Suti adalah perempuan muda yang tidak bisa diam. Karena tak mau dibilang tidak becus mengurus anaknya, Parni, ibu Suti, menikahkan Suti dengan Sarno, seorang duda yang kerja serabutan. Suti juga tidak punya pekerjaan tetap. Kemudian keluarga Den Sastro datang dari Ngadijayan dan menetap di desa Tungkal. Keluarga priyayi itu tinggal tak jauh dari pemakaman, tempat makam ‘keramat’ Pak Parmin berada. Suti dan suaminya menjadi orang-orang yang dimintai bantuan untuk mengerjakan apa saja.

Semakin sering berada di rumah tersebut, Suti lama-lama menjadi bagian dari keluarga itu. Dia kagum dengan kegagahan Pak Sastro sebagai kepala rumah tangga, kekuatan Bu Sastro dalam memperjuangkan keluarga, si sulung Kunto yang pintar, dan si bungsu Dewo yang nakal tapi berani. Dia juga mendapatkan hal-hal baru seperti film yang berbeda dengan pertunjukan wayang, lalu buku-buku dan lainnya. Lalu perlahan Suti merasa status ‘adik’ atau ‘anak bungsu’ yang kerap dikeluarkan Kunto dan Pak Sastro tidak lagi cukup.