Monday, August 31, 2009

Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun

Ibu meninggal.




Aku baca SMS dari temen aku, Intan, dan langsung jadi kayak orang linglung. Ibu yang meninggal memang bukan ibu aku, tapi ibu itu juga berarti buat aku.

Mau nelpon, tapi salah pencet terus.

Aku garuk-garuk kepala gak jelas.

Akhirnya bisa sedikit nenangin diri dan menelepon nomor yang tepat.


Nomornya Intan.

Aku bertanya dengan hal-hal yang sama.

Temen aku itu menjawab. dia nangis, tapi masih bisa ketawa.


Telepon ditutup dan aku linglung lagi.

Padahal beberapa menit yang lalu, aku lagi asyik-asyiknya nonton berbagai video klip RAN di You Tube.

Selanjutnya aku gak tau mau ngapain.

Sebenarnya ingin ke rumah temen aku itu. tapi bentar lagi mereka berangkat. Soalnya pemakamannya di Garut. Dia mungkin bakal lama disana, sama seperti pemakaman ayahnya.

Aku masih linglung.

Mau nangis, tapi ada kemungkinan puasanya batal.

Alhamdulillah, mama, papa, ade aku masih ada.

Tapi mama aku lagi sakit karena kurang tidur.

Aku yang masih linglung tidur disebelahnya, sambil cerita SMS dari Intan.

Semoga almarhumah diterima disisi-Nya, dihapus semua dosanya dan diterima semua amal ibadahnya. Dan beri ketabahan dan kesabaran untuk semua keluarga yang ditinggalkannya.

Amin.

Sunday, August 30, 2009

RAN - Thanks God It's Friday


Thank God it’s friday, everybody wants to party
why don’t we go funky? dancing with you all night, yeah.
looking at them shorties, maybe they wanna party with me.
ya’ll know what it’s all about.
ya’ll know what it’s all about.
it’s friday night, when the feeling is all right
we ain’t coming to sit tight, we came to get high, right?
ya’ll know what it’s all about
when the DJ spins and the chicks come out
like my man Craig D said “friday payday” it’s time to party
P A to the R T to the Y
baby girl you don’t need to ask me why
cause it’s going down like the executioner
scratching them things
flapping them wings
we’re the evolutioner
that’s our name
cause when we come to this game
it ain’t gonna be the same
tell your friends and family about this band
hopefully we be rocking the showbiz
and if ya’ll like this flow
let me know if it’s loco
everybody now let’s go
sexy lady if you want me you got to show me that you’re really the only one for me
you got to show me

you got to show me
you got to show me
you got to show me love
get hype. dance all night
everybody on the floor dance till the sunlight
and bring a friend stop arguing
start conquering and just dance
just dance like it’s your last chance
party like it’s your last day


Saturday, August 29, 2009

Welcome Maru!!

Akhirnya aku selesai ngejalanin kuliah umum sebagai upacara penerimaan mahasiswa baru. Seneng banget akhirnya make jas almamater. Upacara penutupan juga lebih mirip perpisahan, padahal kita belum kuliah satu SKS pun!

There's the picts,

Pra Day:

Pembagian kelas. Aku paling gak suka nama lengkap aku disebut, apalagi pake pengeras suara.

Day 1:

Pagi-pagi udah ada di kampus.

Day 2:


Acak-acakannya kamar aku karena sibuk ngerjain tugas sampe tengah malem.

Day 3:


with my new friend, Chika.

Thursday, August 27, 2009

3 Anak Kucing-Book 1-Chapter 9



Brak! Udith langsung jatuh ketika Tama memukul pipinya. Beberapa barang di rak jatuh dan membuat keributan sesaat.
” Jangan deketin Friesca lagi” kata Tama
” Tapi aku juga berhak”
” Diam!”
” Tama, Udith, ada apa?” Bunda langsung mengetuk pintu dimana mereka bertengkar
” Gak ada apa-apa” jawab Tama ” Udith cuma kepeleset dan nabrak rak”
” Udith, kamu gak apa-apa?”
” Nggak” Udith mengusap-ngusap pipinya yang sudah jelas bukan luka akibat nabrak rak.
***
Di rumah yang jauh, aku sedang merenung tentang kejadian yang tadi. Tama dan Udith, adik kakak. Kenapa aku gak nyadar dari dulu? Padahal buktinya udah jelas banget. Cerita Udith waktu itu ngarah banget ke Tama. Kenapa aku begitu bodoh? Aku ditembak 2 cowok yang ternyata adik kakak. Kalo aku nerima salah satu, yang lainnya pasti gak terima gara-gara kalah dari saudara sendiri.
Keliatannya Udith hormat banget sama Tama yang keliatan gak suka sama Udith yang telah menghancurkan harapannya mempunyai adik cewek. Aku harus gimana?
” Fries? Friesca, udah tidur ya?” Ayah memanggil dari luar. Aku hanya diam. Aku ingin cerita tapi, kenapa hati jadi galau gini?
” Friesca?”
***
Galau, galau, galau!!! Pagi itu aku masuk kekelas dengan lesu. Semaleman dia mikirin dua cowok yang ternyata adik kakak, adik kakak! Aku ingin cerita. Pandanganku tertuju ke Shyra.
” Ra, aku ada masalah nih” aku menyentuh lengan Shyra dan gak disangka Shyra malah menepisnya ”Ra?”
” Apa? Sekarang siapa yang temen makan temen?” aku bingung. Akukan gak ngapa-ngapain
” Maksudnya apa?” Shyra terlihat makin marah
” Kamu pengkhianat!” jerit Shyra, semua memandang kita berdua. Kenapa sih?
” Seharusnya kamu jangan gitu” kata Ogy. Ogy ngapain lagi? Emang aku kenapa?
” Gy, aku bener-bener gak ngerti. Maksud Shyra apaan sih? Emang aku ngapain?”
” Kamu pulang sama Tamakan kemaren? Sedangkan kamu bilangnya pulang sama Udith. Kebetulan kemaren kita pulang bareng dan ketemu Udith yang jalan sendirian. Dia bilang kamu lebih milih Tama dari pada dia”
Apa?! Kemaren aku memang pulang sama Tama, karena Udith ngalah. Apa dia pikir aku milih Tama? Pantesan Shyra marah banget. Akukan udah janji bantuin dia.
” Gak kayak gitu. Kamu tau gak kalo Tama sama Udith itu adik kakak? Udith itu hormat banget sama Tama. Jadi dia ngalah dan aku malah pulang sama Tama”
” Adik kakak?” Ogy kaget banget ” Sumpah, aku gak tau. Udith gak pernah cerita”
” Aku juga kaget. Tadinya aku mau nolak Tama dan nerima Udith. Sekarang . . .”
” Kenapa? kamu suka lagi sama Tama?”
” Bukan. Akukan tadi bilang. Udith itu hormat banget sama Tama. Dia ngalah, Gy. Ngalah demi kakaknya. Aku gak tega kalo harus mereka musuhan gara-gara aku. Aku bingung harus gimana” Ogy terdiam
” Fries, aku juga gak tau” jawaban Ogy sama sekali gak ngebantu.
Kenapa banyak masalah nimpa aku. Dari soal Tama dan Udith yang adik kakak sampai salah paham sama Shyra. Aku binggguuunngggg!!!!!
***
Teet, teet, teet
Bel pulang yang selalu aku tunggu-tunggu gak membahagiakan seperti biasa. Walaupun ternyata cepat 5 menit. Shyra yang mulai pagi dan sepertinya seterusnya duduk sama Indra yang kebetulan sendirian langsung pergi tanpa bilang ’bye’ atau ’nanti aku sms’ yang biasa dia lakukan. Serasa sendirian.
Saat tiba digerbang dengan susah payah, masalah baru datang. Tama dan Udith udah standby dengan kendaraan masing-masing dan saling cuek. Tuhkan, aku bikin adik kakak jadi musuhan.
” Friesca” Tama memanggilku lebih cepat dari Udith. Mereka berdua menghampiriku ” Pulang yuk” kata mereka dengan suara berbalapan
Aku bingung. Kalo aku pilih salah satu, tambah kacau nantinya. Kenapa jadi gini sih? Di saat membingungkan itu, Ogy lewat dengan motornya
” Gy, ikut dong” Ogy menggeleng
” Aku gak mau ikut campur” bisiknya.
Aku menghentakkan kakiku dengan kesal. Aku harus gimana? Hpku bergetar. Sms dari Ayah udah nyampe. Aku harus pulang sekarang.
” Ayah udah sms?” tanya Tama ” Berarti kamu harus pulang sekarang” aku emang pengen pulang, tapi kalian yang bikin aku gak bisa pulang. Aku memandang Tama dan Udith
” Udith, koq pipinya biru?” tanyaku
” Kepeleset trus nimpa rak” jawab Udith sambil mengusap pipinya. Bukan, masa kepleset lukanya dipipi. Kalo gak di kaki mungkin di tangan. Aku memandang Tama terutama tangannya dan warnanya biru juga.
” Kalian berantem ya?”
Tama terdiam, aku langsung curiga. Sedangkan Udith dengan cepat menggeleng
” Nggak koq. Gak terjadi apa-apa” dia pasti ngelindungin Tama
” Kalo gitu hari ini aku pulang sama Udith” Tama langsung kecewa. Dengan marah dia menatap Udith
” Fries, kamu pulang sama Kak Tama aja” apa? Tadi dia minta aku pulang bareng, sekarang malah kayak kemaren
” Kenapa? kemaren aku pulang sama Tama. Sekarang sama kamu dong”
” Iya, tapi . . .” lagi-lagi Tama menatapnya tajam tapi langsung berubah jadi senyum ketika aku memandangnya ” Pokoknya kamu pulang sama Kak Tama deh”
” Iya, sama aku aja. kita bisa makan dulu di kafe yang aku ceritain kemaren” kata Tama. Ini gak adil. Udith keliatan serba salah disini. Dia kayak yang ngeharapin aku tapi dia juga ngejaga perasaan Tama.
” Aku mau pulang sama Udith. Kalian nyuruh aku milihkan?” Tama dan Udith terdiam ” Dan aku milih Udith buat pulang bareng. Ayo”
” Kamu pulang sama Kak Tama, kebetulan aku ada keperluan mendadak. Duluan ya” Udith langsung pergi dengan motornya. Meninggalkan aku sama Tama
” Pulang sekarang?” aku bingung sebentar dan akhirnya mengangguk.
***
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Abis bikin masalah sama Shyra, sekarang aku terjebak sama Tama. Sepanjang perjalanan terasa panas terus. Apalagi dia nanya yang aneh-aneh
” Siapa yang duluan kenalan, aku apa Udith?” tanya Tama
” Kamu” Tama terlihat senang mendengarnya
” Kalo yang nembak duluan siapa?”
” Udith” Tama jadi diam mendengar jawaban itu
” Trus kamu milih siapa?” suara Tama jadi agak pelan
” Harus ya?” aku mengangguk
” Kamu harus milih salah satu. Kita butuh kepastian”
Kepastian? Kalo sikap Udith yang hormat banget sama kamu, kamu memang pasti yakin aku bakal milih kamu. Tapi, kalo aku milih kamu, Shyra . . .
” Aku gak tau”
” Kenapa?”
” Karena aku gak tau!” aku memberi sedikit penekanan dan itu membuat Tama diam sampai mobilnya sampai di depan rumahku.
” Sampai besok” lagi-lagi kata itu. Ketika aku keluar, muncul sebuah ide
” Tam . .” Tama membalikkan badannya ” Kamu butuh kepastian?” selanjutnya Tama mengangguk ” Bilang ke Udith, kita pergi bareng bertiga Sabtu besok dan aku bakal milih kalian” Tama tersenyum senang
” Iya, aku bakal bilang ke Udith” dan sedetik kemudian Tama pergi. Aku gak yakin Tama bakal bilang ke Udith. Tapi sekarang bukan itu masalahnya. Masalah sebenernya, aku bakal pilih siapa?

Saturday, August 22, 2009

Some Picts In The Past

Rasanya aneh online di jam 10. Itu cukup pagi buat aku. Biasanya aku online dari magrib sampai hampir tengah malem. Hari ini buka facebook seperti biasa dan homeku dipenuhi status tentang puasa.

Oh, iya, maaf kalau aku ada salah,
Pada siapapun,
Apapun kesalahan itu,
Besar atau kecil,
Bengaja atau tidak.
'Met puasa!!

Aku girang banget nemu foto penampilan grup angklung SMPN 28 Bandung hampir 3 tahun yang lalu. Yap, aku disana dan masih pake seragam putih biru. Culuuun banget. Lalu aku bertanya, apa rambut aku benar-benar selurus itu??




Oh, that's me!!

Friday, August 21, 2009

Same But . . .

#1 Siapa sih gak belum pernah baca Twilight?



Kalo gak bisa baca yang tebal-tebal, ada alternatif koq.



Atau mau yang ini?




#2 Sebenarnya ini kaki siapa ya?






#3 Pilih ngaca bareng hantu atau gak punya telinga?



Merah Putih

Aku suka film yang tidak hanya tentang cinta , tapi juga ada action nya. apalagi tembak-tembakan. seneng banget lah. aku selalu nonton film action luar negeri karena di Indonesia film laga sedang sepi peminat. tapi begitu ada film Merah Putih, rasanya gak harus lagi nonton film luar.

pembuatan film ini berkerjasama dengan orang luar negeri. jadi sound dan cara mengambilan angle nya belum pernah aku liat di film-film Indonesia sebelumnya. adegan tembakan-tembakan, bom, dan adegan perang lainnya terasa begitu nyata karena syutingnya sendiri memang menggunakan senjata asli. karaktek pejuang yang berbeda suku dan agama sangat menggambarkan Indonesia yang penuh keberanggaman. tapi sayangnya saat lagi rame-ramenya, filmnya malah bersambung! ini memang film trilogi. film keduanya kemungkinan akan dikeluarkan tahun depan.

keep waiting!

i love Indonesia.

The Books That I Liked To Read






dan aku beli yang ini.


Judul: I'd Tell You I Love You, But Then I'd have To Kill You
(Aku Mau Saja Bilang Cinta, Tapi Setelah Itu Aku Harus Membunuhmu)

Penulis: Ally Carter

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2009

Ringkasan Cerita:

Cammie Morgan mungkin cewek genius, menguasai empat belas bahasa, jago mengurai kode rahasia tingkat tinggi, dan merupakan "harta" berharga CIA. Kadang ia bahkan merasa dirinya bisa menghilang. Untungnya, di Akademi Gallagher hal itu dianggap keren. Jelas saja, karena Akademi Gallagher sebenarnya sekolah mata-mata top secret.

Tapi soal cowok, Cammie benar-benar idiot. Ia nggak berkutik waktu Josh yang superkeren terang-terangan menatapnya di karnaval kota Roseville. Padahal saat itu Cammie sedang menjalankan misi Operasi Rahasia-nya yang pertama, padahal teman-teman sekelasnya pun nggak bisa melihat keberadaannya.

Siapa cowok itu? Haruskah ia memeriksa sidik jari Josh, mengintai dan menyamar, mengerahkan kemampuan mata-matanya untuk menyelidiki cowok itu? Meskipun tahu Gallagher Girls nggak boleh berhubungan dengan cowok-cowok lokal di Roseville, Cammie sepertinya nggak bisa menolak daya tarik Josh, karena satu fakta penting ini: Josh melihatnya saat nggak seorang pun bisa melihatnya.

Thursday, August 20, 2009

Premiere Today


Film ini mengisahkan kehidupan Margaret Tate, bos dari sebuah perusahaan penerbitan buku. Dia dibenci oleh hampir semua karyawannya. Termasuk asistennya sendiri yaitu Andrew Paxton. Karena sesuatu hal, Margaret terancam diseportasi ke Canada. Dia pun panic dan berusaha mencari jalan keluarnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menikah pura pura dengan Andrew, Andrew pun setuju namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Margaret. Dan bisa ditebak, syarat ini menjadikan mereka berdua semakin dekat.

Annual Book

Akhirnya booklet, CD dan foto angkatan dibagiin juga setelah menunggu sebulan lebih. tapi tetep aja banyak yang kecewa dengan hasil yang ada.




and here i am.


3 Anak Kucing-Book 1-Chapter 8


Ayah bener! Aku harus bisa nentuin masa depanku sendiri. Jangan bilang ’gimana nanti’ tapi ’nanti gimana’. Aku harus pilih antara Tama dan Udith, Aku harus pilih salah satu dari mereka. Harus, tapi yang mana?

Aku mencorat-coret selembar kertas. Menulis kelebihan kedua cowok itu dan membandingkannya.

Mulai dari Tama. Kendaraan oke banget, masa depan? Lumayan cerah. Cara dia ngomong dan bersikap cukup baik, Selalu senyum dan baik banget.

Kalo Udith. Kandaraan, ya lumayanlah, masa depan? Belum pasti tapi kayaknya cerah. Cara dia ngomong dan bersikap, anak muda banget, selalu memberi contoh yang mudah dimengerti.

Keduanya sama-sama baik dan punya kelebihan. Tama yang dewasa dan Udith yang ’dalem’. Kendaraan? Duh, kenapa aku jadi matre gini?

Kertas yang ditulisi malah diremas dan dilempar keujung. Pusiiiinnngggg!!!! Pilih siapa? Pilih siapa? Aku harus pilih siapa?

Karena kecapean, aku ketiduran di meja.

***

” Ra, aku gakkan nerima Tama” mata Shyra terbelalak mendengar pernyataan di pagi hari itu.

” Kenapa?” tanyanya pelan. Aku lalu menjawabnya dengan yakin

” Karena aku lebih milih temenan sama kamu daripada jadian sama Tama. Pasti gak enak banget kalo aku ada diposisi kamu” aku tersenyum dan langsung dibalas Shyra

” Fries, makasih banget!” dia langsung memelukku

” Trus, kamu sama dia sekarang gimana?” Shyra langsung cemberut

” Dia ngejauh gitu. Sms gak pernah dibales, telepon selalu direject” Shyra diam sejenak ” Waktu ketemu diruang guru, dia pura-pura gak liat dan gak kenal aku” aku kaget. Ternyata Tama bisa gitu juga sama cewek, aku gak nyangka

” Aku bakal bantuin kamu supaya bisa deket sama Tama lagi” wajah Shyra jadi cerah

” Serius?” aku mengangguk ” Makasih ya. Eh, gak papa gitu? Kamukan udah lama jomblo. Masa aku ambil. Temen makan temen dong”

” Nggak koq. Lagi pula aku udah punya yang lain. Makanya aku nolak Tama”

” Wah, masa sih? Cerita dong” dengan lancar aku bicara tentang Udith. Dari pertama ketemu, kata-kata dalemnya sampai acara penembakan di kebun binatang.

” Dalem banget” benerkan? Semua cewek pasti bilang Udith itu ’dalem’ banget

” Apanya yang dalem?” Ogy datang dengan segepok tiket

” Mau tau aja. eh, itu apaan?” Shyra menunjuk tiket ditangan Ogy

“ Ini tiket buat nonton teater besok”

” Hah, teater?” aku dan Shyra kagetnya minta ampun

” Kalian belum tau? Besok itu kita disuruh nonton teater tentang kematiannya Hilter” kata Ogy panjang lebar

” Emang ada materinya ya? sejarah gak bahas itukan?”

” Ini pengganti karena Bu Irma gak bisa masuk kemaren. Yang diganti sama pak Harun itu loh. Kamu pasti inget”

Aku mengangguk. Gak mungkin aku lupa 3 jam mengerikan itu

” Kelas 2 SMU Harapan juga nonton loh besok” tambah Ogy dengan bisikan

” Wah, masa sih?”

Ogy mengangguk pasti

” Siapa kelas 2 SMU Harapan itu?” Shyra kebingungan mendengar pembicaraanku dan Ogy

” Ra, masa udah lupa. Diakan yang aku ceritain tadi. Udith itu anak SMU Harapan” Shyra ngangguk-ngangguk tanda mengerti

” Berarti jawabnya besok dong” sekarang Ogy yang kebingungan

” Jawab apa?” Jadi Udith belum cerita sama Ogy. Syukur deh.

” Ada deh” jawabku sambil senyum

” Apaan? Kenapa aku gak dikasih tau?” kalo dikasih tau, nanti gak aneh dong. Waduh, aku ingin cepet-cepet besok nih!

***

” IPS 3 kumpul disini!” dari balik kerumunan orang-orang percampuran dari berbagai SMU di kota Bandung, Ogy teriak-teriak memanggil teman-temannya yang IPS 3. cape juga jadi ketua murid. Begitu aku dan Shyra sampai ditempat berdirinya, suara Ogy udah serak. Sambil mencoba teriak lagi. Sesekali Ogy tersenyum ke temen-temennya dari SMU lain. Ada SMU Utama, SMU Palana, dan tentu saja SMU Harapan.

Aku yang dari tadi ngeliat anak SMU berlokasi SMU Harapan sibuk banget. Sibuk nyiapin jantungnya biar gak copot pas ketemu Udith dan bilang ’ya’ sebagai jawaban tembakannya.

” Halo” seseorang menepuk pundak kecilku dan itu Udith!

” Hei, kirain gak ikut nonton. Apa kabar?” tanya Ogy

” Baik banget” Udith tersenyum padaku dan aku membalasnya

” Udith itu kamu ya?” Shyra langsung mengulukan tangannya ” Kenalin, aku Shyra, temen sekelas Friesca dan Ogy”

” Iya” Udith membalas tangan itu sambil tersenyum. Tiba-tiba pintu ruang pertunjukan yang dari tadi tertutup mulai terbuka. Ogy langsung aja teriak-teriak lagi

” Woi, ayo kelas IPS 3 masuk. Dan jangan lupa nanti kumpul lagi di sini” semua terlalu sibuk dengan tiket masing-masing dan kayaknya gak ngedenger suara Ogy sekeras apapun

” Gy, sukses jadi ketuanya. Fries, nanti kita pulang bareng” tanpa menunggu jawabanku, Udith langsung pergi dan gabung sama anak SMU Harapan. Dia gak perlu nunggu jawabannya karena aku pasti mau!

” Ra, sorry aku gak bisa pulang bareng kamu” Shyra tersenyum

” Gak papa koq. Kamu mau pulang bareng diakan?” aku mengangguk ” Aku dukung koq”

Aku seneng banget. Saking senengnya aku sama sekali gak merhatiin drama yang lagi dimainkan. Aku terlalu sibuk nyari Udith di kursi-kursi lain. Ternyata dia dudk disebelah Ogy. Ih, Ogy koq gak ngasih tau kalo kita boleh gabung sama SMU lain. Kalo gitu aku ingin duduk disamping Udith.

” Fries, jangan ngelamun doang. Perhatiin dong, nanti ada lembar kerjanya” setelah itu Shyra serius lagi sama drama. Iya deh, sejarahkan kesukaan kamu. Aku gak peduli sama teaternya. Tenang, kan ada Shyra. Aku langsung sibuk nyari Udith. Begitu ketemu ternyata Udith lagi ngeliat dia juga dan tersenyum. Jangan-jangan dia tau aku nyari dia. Jadi malu nih!

” Fries, Fries, Friesca! Ayo keluar. Udah selesai tau”

“ Udah selesai?” aku kaget. Masa cepet banget?

“ Udah dari tadi. Kayaknya kamu ketiduran. Ayo keluar, kamu mau pulang bareng Udithkan?” aku langsung berdiri mendengar kata ’Udith’. Aku harus nyari dia. Tapi, aku harus ngumpul dulu sama Ogy.

” Ke Ogy dulu. Katanya dia mau ngebagiin lembar kerjanya” Shyra menarik tanganku dengan susah payah. Begitu sampai ke tempat tadi, aku gak ngeliat anak SMU Harapan satupun. Jangan-jangan . . .

” Udith belum pulang koq” kata Ogy” Anak Harapan juga dibagiin tugas dulu. Dia tadi nitip pesen, katanya kamu disuruh nunggu di parkiran mobil” aku bener-bener seneng Ogy bilang itu

” Makasih ya” aku langsung berlari ke atas, dimana tempat itu ada. Kayaknya Udith udah lama nunggu deh. Kenapa sih aku pake ketiduran segala? Begitu sampai atas aku gak ngeliat Udith tapi . . .

” Tama?” aku kaget melihat Tama dan mobilnya di parkiran itu. Kenapa Tama ada disini?

” Friesca, baru selesai, ya?” Tama tersenyum seperti biasa

” Koq tau?” apa Shyra yang ngasih tau? Tapi katanya sms dia gak pernah dibales

” Pas lewat sini, aku disapa sama anak SMU Bakti Negara yang masih inget aku. Trus aku tanya dan aku tau kalo kelas kamu nonton teater hari ini”

Aku tersenyum, tapi senyum yang terpaksa. Waktunya gak cocok nih. Gimana kalo dia tau aku nolak dia dan terima Udith? Apa Tama bakal marah?

” Kenapa?” tanya Tama setelah melihat senyumku yang aneh

” Gak papa koq” ingin kabur rasanya. Udith, dateng dong!

” Kalo gitu pulang yuk. Aku anter, biar Ayah kamu gak khawatir” Tama membukakan pintu mobilnya untukku

” Tam, tapi aku . . .”

” Friesca!”

Itu Udith. Untung aja dia dateng.

Udith dateng dengan wajah berkeringat dan nafas terburu. Kayaknya dia abis lari-lari. Dia keliatan kaget begitu ngeliat aku sama cowok lain. Apa dia bakal mikir aku udah punya cowok? Jangan deh, akukan mau nerima kamu bukan Tama

” Udith, ini . . .” sebelum menjelaskan, Udith keburu bilang satu kata yang bikin aku kaget

” Kakak . . .” kakak? Udith nyebut Tama kakak. Berarti diantara mereka ada hubungan. Mataku melihat Tama dan Udith bergantian

” Udith, ngapain kamu disini?” tanya Tama. Tama kenal sama Udith!

” Aku habis nonton teater, Kak” lagi-lagi kakak

” Sama kayak Friesca?” Udith mengangguk dengan sangat hormat ke Tama.

” Kalian saling kenal?” tanyaku sambil sedikit takut. Takut pikiran yang ada dikepalanya memang nyata. Jangan-jangan mereka . . .”

” Kenal koq” jawab Tama. Sepertinya dia marah

” Fries, akukan udah cerita. Kak Tama itu kakakku”

Apa?!

Sunday, August 16, 2009

Show Time!!

Ini dia saatnya Lil Come Back. acaranya mulai dari jam sepuluh, tapi angklung maennya jam tujuhan. jadi aku sempet ke kampus baru aku dulu. tapi ternyata pengumuman tentang ospeknya gak ada sama sekali. langsung sama aku meluncur ke Ciwalk. aku ngerasa autis banget. apalagi peristiwa memalukan waktu beli J.Cool Yogourt.

aku: (menerima yogourt plain dengan toping strawberry) ng, ini tempatnya dibalikin lagi gak?
mas J.Co : (berpikir sebentar) nggak, silakan aja.



aku ngerasa tempatnya dari gelas kaca, jadilah aku bertanya seperti itu. memalukan banget! untung semua itu terbayar dengan maen angklung. walaupun aku banyak lupanya.




me and my BFF, Intan.




nb: tabungan ku hari ini satu jutaaa!!!

Friday, August 14, 2009

First Page Of THE REAL AZID

3 Anak Kucing-Book 1-Chapter 7


Saat istirahat ada dua orang cewek yang merenung di mejanya. Dan kebetulan mereka itu satu meja. Yang satu jelas adalah aku yang bingung dengan tembakan Udith kemaren dan yang satu lagi adalah Shyra yang sepertinya memikirkan seseorang.

” Ah . . .” keduanya menghela nafas bersamaan. Aku langsung tersenyum

” Ra, kamu kenapa?” Shyra malah nanya balik

” Kalo kamu?”

” Khas cewek, masalah sama cowok”

“ Aku juga tentang cowok”

“ Cerita dong” sebelum Shyra membuka mulutnya, kerumunan anak cowok yang lagi nongkrong di luar langsung pada masuk membuat anak cewek yang kebanyakan didalam bertanya-tanya ” Ada apa?”

” Ada Kak Shanty” orang yang dimaksud Ogy itu langsung masuk dengan seseorang yang tidak lain adalah Tama yang membawa laptop, yang sempet aku.. tolong, jangan dibahas lagi!

” Siang semua” sapa Shanty

” Siang!” semua cowok langsung semangat dan menjawab sapaan itu dengan teriakan ” Kebetulan guru yang ngajar kalian gak masuk hari ini. Jadi kami diberi kesempatan untuk melanjutkan diskusi kita yang kepotong bel waktu itu”

Semua langsung ribut

” Dan bagusnya laptopnya udah bisa nyala” Tama sepertinya sengaja memberitahu hal itu padaku. Dia sibuk menyambung kabel-kabel ke sebuah stop kontak yang ada di dekat meja guru.

” Hari ini kita akan membahas global warming atau pemanasan global” Shanty langsung menerangkan semua hal yang menyangkut pemanasan global sedangkan Tama dengan sigap mengganti setiap gambar yang telah Shanty terangkan. Begitu semua selesai dijelaskan, sekarang waktunya diskusi

” Ada yang ditanyakan atau masih kurang jelas?” semua tangan langsung mengacung terutama tangan cowok-cowok. Kelas 2 ips 3 ributnya minta ampun.

Setelah semua selesai cowok-cowok tetep ribut. Sampai Shanty dan Tama keluar, kelas itu tetep ribut. Kelas lain sampai berusaha ngeliat saking penasarannya. Sebelum keluar Tama tidak lupa membisikkan sesuatu

“ Nanti aku sms” bisiknya. Aku mengangguk. Hanya sebuah bisikan kecil yang aku yakin cuma dia dan Tama yang tau. Tapi ternyata ada orang lain yang tau. Shyra tiba-tiba aja udah pergi entah kemana

” Eh, liat Shyra gak?” lagi-lagi semuanya menggeleng. Kemana sih anak itu?

” Ke kantin” jawab Ogy ” Tadi aku liat dia lari ke arah kantin gitu”

” Ogy, makasih banget!” aku seneng banget ” Kamu koq selalu tau Shyra dimana?” Ogy jadi terlihat gugup ” Udah ah, aku mau ke Shyra dulu ya”

Aku langsung keluar dan berjalan ke arah kantin. Tapi sebelum sampai aku mendengar suara yang dia kenal banget.

” Kenapa kamu harus marah?” itu suara Tama

” Karena kamu bilang kamu bakal ngesms dia” dan kali ini suara Shyra ” kenapa kamu gak bilang itu ke aku?”

” Ra, akukan udah bilang. Sering malahan. Aku itu . . .”

” Tam, aku pernah liat dia naik motor sama cowok!”

” Mungkin Ogy atau teman cowok yang lain”

“ Cowok itu bukan anak sini tau. Aku liat sendiri seragamnya”

” Itu bukan berarti dia jadian sama cowok itukan?”

” Tam, aku bener-bener suka kamu” aku kaget mendengar pernyataan Shyra itu. Tambah kaget begitu mendengar jawaban Tama

” Ra, aku juga bener-bener sayang tapi aku sayangnya ke Friesca bukan ke kamu. Ngerti?”

Tama sayang aku?

” Apa bagusnya dia?” sepertinya Shyra mulai menangis

” Dan apa bagusnya kamu dimata aku?”

” Tam, kamu . . .”

PLAK! Shyra nampar Tama!

” Kenapa kamu nampar aku?”

” Karena kamu lebih milih Friesca daripada aku!” dari koridor yang sepi itu Shyra berlari, dia juga sempat menabrakku. Tapi sepertinya dia gak tau itu aku. Dia terus berlari sambil menangis. Kemudian Tama keluar sambil mengusap pipinya yang ditampar Shyra dan melihatku.

” Friesca . . .” Tama kaget dan langsung menahan lenganku ketika cewek itu membalikkan badannya ” Tunggu!”

” Buat apa?” tanyaku. Pantesan Shyra tiba-tiba berusaha pake make-up, pantesan Shyra jadi berubah, ternyata, kalo gini dari dulu aku bakal nolak deket sama Tama. Ini namanya temen makan temen.

” Kamu denger semuanya?” aku mengangguk ” Aku ingin jawaban kamu”

” Jawaban apa?”

Are you gonna be my girl?” aku terdiam

***

Malam minggu, malam yang sungguh sangat panjang sekali bagiku. Bukan cuma malam minggu, tapi malam-malam setelah Udith menembaknya, lalu Tama yang menembaknya lalu malam Shyra menjauhinya. Semuanya terasa panjang sekali.

Hp yang kusimpan di meja langsung bergetar, masuklah sms dari Tama.

Fries, hri ini aku k rmah kmu ya? blehkan? Tmen ak bru bka resto di mall. [Tama]

Aku berpikir sejenak dan satu sms baru masuk. Kali ini dari Udith.

Malm mnggu nih! Aku k rmah km y, aku telp Ayah kmu dlu. [Udith]

Aku menghela nafas. Dia menulis sebuah balesan untuk Udith

Dith, sorry hri ini aq lgi mles. Jgn telp Ayah, dy lgi lembur ksian lmburkan cpe bgt. Thx buat ajakannya. Sorry . . . [Friesca]

Sent. Gak lama dari itu masuk sebuah sms baru

Ayah? Ngpain aku telp Ayah kmu. Akukan g tau no nya. Gpp deh. Tpi lain kli kita prgi ya?[Tama]

Koq ke kirim ke Tama?Sekarang aku mengirim ulang sms yang salah kirim itu ke Udith. Seperti kilat, balesannya langsung nyampe

Ok, ga papa koq. Slam buat Ayah kmu [Udith]

Baru kali ini aku nolak dan bikin orang lain kayaknya sedih banget. Apalagi ngeliat sms dari Udith tadi. Singkat banget.

” Koq anak Ayah sendiri?” tiba-tiba Ayah pulang sambil membawa tas kantornya.aku yang sedang duduk diluar tak menyadarinya. Dia langsung memeluk Ayahnya seperti biasa

” Ayah, mobilnya mana?” aku melepaskan pelukannya dan ikut duduk di sofa luar, disamping Ayahnya

” Lagi dibengkel. Kalo kamu mana pangeran-pangeranmu itu?” lagi-lagi Ayah tersenyum jail

” Pangeran?”

” Itu Tama dan Udith. Masa malam minggu gini gak ngapel sih?” aku langsung terdiam ” Kenapa lagi marahan?”

” Friesca lagi bingung, Yah” semua cerita tentang acara nembak Tama dan Udith, juga tentang hancurnya persahabatannya dengan Shyra ” Friesca harus gimana, Yah?”

Wajah kebapakannya langsung muncul. Tak ada lagi senyum jail. Aku langsung bisa melihat banyaknya kerutan diwajah Ayahnya itu. Tanpa disadarinya Ayah semakin tua. Dia mengusap rambutku pelan dan tetap tersenyum. Walaupun tak mendapat jawaban, aku merasa agak tenang.

” Meow! Meow!”

Ketenanganku hilang mendengar suara dua kucing yang sepertinya sedang berkelahi.

” Kucing siapa sih?” sepertinya Ayah juga terganggu. Aku berdiri dan melihat kedua kucing jantan itu

” Itu si cute sama si emas” Ayah terlihat bingung ” Kucing punya tetangga baru di ujung itu loh” Ayah lalu mengangguk-ngangguk tanpa mengerti

” Berkelahi ya. Gak cuma manusia, kucing yang lucu itu aja berkelahi. Namanya unik. Si cute sama siapa satu lagi?”

” Si emas”

Aku tidak begitu mendengar celotehan Ayahnya. Tapi aku merasa aneh ketika tau ternyata ke dua kucing itu berkelahi di depan kucing yang ada tak jauh dari mereka. Itukan Kitycat. Kucing betina jenis anggora atau persia itu, aku gak begitu ngerti jenis-jenis kucing, emang cantik banget. Itu menurut pandangan dari segi kucing loh. Pantesan aja Cute sama Emas yang akur bisa berkelahi demi Kitycat.

” Ngerasain perasaan Kitycat gak?” tanya Ayah yang juga memperhatikan ketiga kucing itu ” Kayak kamu, Tama dan Udithkan?”

Aku langsung ngeh. Kitycat emang keliatan , kayaknya sih, bingung. Dia mondar-mandir dan akhirnya kucing yang punya ukuran tubuh lebih besar alias Si Emas maju sebagai pemenang lalu dia menghampiri Kitycat dan mulai gak mondar-mandir. Apa nasib aku bakal seperti itu? Apa sebaiknya aku pilih Tama? Tapi, nanti Shyra . . .

” Ternyata benar kata pepatah bijak” kata Ayah sambil tersenyum

” Soal apa?” Ayah lalu menunjuk Kitycat yang malah pergi sama kucing lain. Bukan Si Cute atau Si Emas!

” Sekeras apapun kita berusaha, kalo gak sesuai dengan kehendak Tuhan, hasilnya bakal beda sama harapan kita. Liat aja tuh, Kitycat malah gak milih dua-duanya. Dia malah pergi sama kucing kampung itu”

” Jadi aku harus diem aja dan ngikutin takdir. Gimana nanti, gitu?” Ayah menggeleng pelan

” Bukan itu, sayang” katanya ” Pepatah itu bukan buat kamu tapi buat Tama dan Udith. Sekeras apapun mereka berusaha, keputusan akhirnya tetep ada dikamu. Kamu yang harus milih salah satu. Jadi kamu milih siapa?”

” Gimana nanti deh” mataku tidak lepas dari Kitycat dan gandengan barunya

” Eh, jangan ’gimana nanti’ harusnya ’nanti gimana’. Kamu harus bisa nentuin masa depan kamu”

” Trus, Friesca harus gimana?”

” Gimana kalo kita seduh kopi baru yang Ayah dapetin gratis dari kantor? Enak loh. Kamu pasti suka. Tapi jangan kebanyakan ya” aku heran sebentar tapi akhirnya tersenyum

” Oke deh . . .”

Thursday, August 13, 2009

Premiere Today


MERAH PUTIH, bagian pertama dari Trilogi Kemerdekaan, film produksi bersama PT Media Desa Indonesia, yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo, dan perusahaan film internasional Margate House, Ltd., dimiliki oleh Rob Allyn dan Jeremy Stewart. Berlatar sejarah otentik perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan pada tahun 1947 ketika terjadi Agresi Militer Belanda pimpinan Van Mook yang menyerang jantung kaum republik di Jawa Tengah, MERAH PUTIH bercerita tentang sekelompok pejuang kemerdekaan yang harus bersatu untuk bertahan dari pembunuhan, berjuang sebagai pejuang gerilya, untuk menjadi anak-anak bangsa sesungguhnya, terlepas dari konflik pribadi yang tajam dan perbedaan yang besar dalam kelas sosial, suku, daerah asal, agama, dan kepribadian.

Tuesday, August 11, 2009

Books That I Like

Aku merekomendasikan buku-buku ini untuk dibaca.

terutama buku baru dari Stephanie Meyer, The Host.



Judul: The Host ( Sang Pengelana )

Penulis: Stephanie Meyer

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ringkasan Cerita:

Melanie Stryder menolak dilenyapkan.

Bumi dikuasai musuh tak kasatmata dan manusia dijadikan inang oleh para penguasa ini. Otak mereka diambil alih sementara tubuh mereka meneruskan kehidupannya yang lama, seolah-olah tak ada yang berubah.

Ketika Melanie tertangkap, tubuhnya diberikan kepada Wanderer, sang "jiwa" pengelana yang menjadi penguasa barunya. Wanderer telah diperingatkan mengenai berbagai tantangan yang akan dihadapinya dengan hidup dalam inang manusia: luapan emosi, perasaan yang melimpah, dan ingatan yang teramat kental. Namun ada satu yang tak pernah dibayangkan Wanderer: penguasa lama tubuh ini---Melanie Stryder---menolak menyerahkan benaknya sepenuhnya.

Wanderer menyelidiki pikiran-pikiran Melanie, berharap mengetahui di mana keberadaan segelintir manusia yang masih bersembunyi. Namun tanpa disadarinya, Melanie malah memenuhi pikiran Wanderer dengan sosok Jared, laki-laki yang dicintainya dan masih hidup dalam persembunyian. Perlahan namun pasti, Wanderer mulai mendambakan dan menginginkan Jared, dan bersama Melanie ia memutuskan untuk memulai perjalanan panjang mencari laki-laki yang sama-sama mereka cintai itu.


Friday, August 7, 2009

Premiere Today


Di Minangkabau, Sumatra Barat, Merantau adalah tradisi yang harus dijalankan setiap anak laki-laki. Yuda (Iko Uwais), pesilat Harimau handal, dalam persiapan akhir untuk memulai perantauannya. Ia harus meninggalkan keluarganya, ibu tercinta, Wulan (Christine Hakim), dan udanya, Yayan (Donny Alamsyah), kenyamanan dan keindahan kampung halamannya, dan membuat nama untuk dirinya di keserabutan kota Jakarta.

Nasib mempertemukan Yuda dengan yatim piatu Adit (Yusuf Aulia) dan kakaknya, Astri (Sisca Jessica), yang akan menjadi korban organisasi ilegal human trafficking

Organinsasi yang memperlakukan manusia seperti barang ini dipimpin seorang Eropa berhati batu, Ratger (Mads Koudal) dan tangan kanannya Luc (Laurent Buson). Ketika terluka dalam perkelahian antara Johni (Alex Abbad), para tukang pukulnya dan Yuda, Ratger bersikeras mencari Astri, atau “barangnya”, yang berhasil di selamatkan dan ingin pembalasan berdarah setimpal

Perkenalan Yuda dengan kota serabutan ini seperti api yang menyulut ketika situasi memaksanya untuk melarikan diri bersama Astri dan Adit dari kejaran mucikari dan preman-preman yang menguasai malam, menggerayangi setiap jalanan, dan mengejar setiap langkah mereka

Dengan kebebasan hampir di tangan mereka, Yuda tidak mempunyai pilihan selain melawan orang-orang yang menyerangnya dengan adrenalin tinggi dalam runtunan action yang belum pernah dipersembahkan sebelumnya di layar lebar Indonesia